:: You are at :: - My Journey -
.:My Journey:.
 
:: National Geographic Traveler Indonesia: Menapak Jejak Shaman Mongolia
PermalinkPermalinkMon, Oct 03, 2011 @05:10 by Avgustin, Categories: My Publication

NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA OCTOBER 2011
MENAPAK JEJAK SANG SHAMAN


Teks dan Foto oleh Agustinus Wibowo

BUG! Ini sudah ketujuh kalinya saya terpeleset, terpelanting, dan terjerembab di atas tumpukan salju saat melakukan perjalanan di Taiga, Mongolia, bersama kawan saya, Saraa.

Tidak ada jalan lain, saya dan Saraa terpaksa meninggalkan kendaraan roda empat kami, mobil jip rusia kuno, di lembah, lalu berjalan mendaki tumpukan salju—kadang setebal pinggang, kadang setinggi dada—menuju Taiga yang agaknya tidak seperti tempat tinggal manusia normal. Pemandangan laksana kahyangan. Rusa-rusa salju lincah berlarian di atas tumpukan salju tebal. Dengan kaki dan tanduk seramping ranting, serta bulu selembut beludru, mereka seolah tidak berdaya. Tetapi merekalah satwa yang merajai Taiga.

KAMI MENUJU TAIGA untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tentang shamanisme atau perdukunan di Mongolia yang selama ini memenuhi benak saya: Masih adakah shamanisme di zaman ini setelah puluhan tahun komunisme memberangus praktik-praktik kuno? Ketika para nomad Mongol sudah bertelepon genggam dan menetap di kota? Ketika internet sudah merambah? Ketika dokter dan obat sudah menggantikan jampi-jampi untuk menyembuhkan penyakit? Di Mongolia, shamanisme adalah jalan hidup utama jauh sebelum datangnya agama-agama. Kepercayaan dan ritual shamanisme menjadikan kultur negeri misterius ini begitu “eksotis.”

Orang Mongol percaya bumi memiliki roh, karena itu mereka sangat berhati-hati “melukai” bumi. Sebagai bangsa nomaden, setiap kali berpindah, mereka selalu menutup kembali semua lubang bekas tiang kemah agar sang roh bumi tidak marah. Selain itu, orang Mongol juga menghormati roh api dan pohon tunggal. Mereka tidak akan melemparkan sampah jenis apa pun ke dalam api di tungku, dan bermalam di bawah pohon tunggal.

Orang Mongol membiarkan rambut bocah-bocah balita mereka tumbuh panjang, hingga sulit dibedakan mana bocah laki-laki, mana bocah perempuan. Alasannya, agar roh jahat bingung dan tidak mengganggu mereka. Ritual menggunting rambut pun menjadi upacara istimewa, dirayakan besar-besaran, dan harus dihitung tanggal baiknya. Saat melihat bayi imut, orang Mongol biasa memuji, “Aduh, bayi ini jelek sekali!” Karena dalam kepercayaan mereka, pujian positif akan memanggil roh jahat untuk mengincar si bayi. Saat hendak ke luar rumah, orang tua lebih dulu menggoreskan arang hitam pada hidung balitanya agar roh jahat salah mengira sebagai kelinci. Lalu, agar tidak diculik setan, anak-anak Mongol dipanggil, “Nergui,” yang berarti tidak punya nama, atau si anjing jelek, atau si anjing kuning. Setelah matahari terbenam, jangan sekali-kali memanggil nama anak kecil agar tidak terdengar oleh roh jahat. Bayi yang sakit dan tidak kunjung sembuh dibawa ke dukun, dan kadang terpaksa harus diganti namanya agar sembuh.

Semua itu adalah tradisi yang hidup hingga hari ini. Semua berasal dari konsep shamanisme yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Taiga berada tidak jauh dari kampung halaman Saraa di Tsaagan Nuur, kota terpencil nun jauh di utara, bersisian dengan danau raksasa Khovsgol. Di kota yang namanya berarti danau putih inilah padang rumput stepa yang membentangi Mongolia berakhir, berganti hutan boreal dengan pohon-pohon berdaun jarum. Berbekal rasa penasaran akan shamanisme, kami menuju Taiga, yang bahkan orang Mongol pun tak berani membayangkannya.

Jelang pengujung tahun, tepatnya pada November, seluruh Mongolia dibalut salju tebal. Suhu rata-rata sudah berkisar 20 derajat Celcius di bawah nol. Napas meninggalkan jejak uap beku dan sekujur tubuh terasa kelu. Saya mengerut di balik balutan tiga lapis jaket tebal dan selimut di sudut mobil. Isi perut serasa diaduk-aduk setiap kali mobil bergoyang hebat melintasi jalan makadam. Gelap pekat di luar sana.

Sepuluh jam berlalu, mobil kami akhirnya takluk oleh dahsyatnya jalan makadam ini. Rusak total. Kami terpaksa berhenti di sebuah kemah di pinggir jalan yang berjarak kurang dari 40 km dari kota Moron (nama kota ini tidak ada kaitan dengan tingkat kecerdasan warganya).

PUKUL DUA DINI HARI, kami membangunkan pemilik kemah untuk memasakkan makanan—hal ini lazim dilakukan di Mongolia. Lalu, Saraa menuturkan cerita yang membuat bulu kuduk saya berdiri.

“Pada suatu malam gelap, saya mendengar anjing melolong,” katanya. Anjing yang dimaksud Saraaa adalah anjing “tradisional” Mongolia yang buas, bertubuh besar, dan bersuara nyaring, bukan anjing berdarah campuran seperti kebanyakan anjing. “Tetapi aneh, aneh sekali. Hanya saya sendiri yang mendengar lolongan yang begitu mengerikan. Saya bertanya pada orang-orang di sekitar, tidak ada siapa pun yang mendengar,” lanjut Saraa membuat saya bergidik.

Suara itu terus membayangi Saraa. Setiap malam, ia mengaku mendengar lolongan itu sendirian. “Saya hampir gila!” serunya. Tidak tahan lagi, Saraa pun pergi ke kuil untuk menemui peramal. “Hasil ramalan,” kata Saraa, “nenek moyang saya kemungkinan shaman hitam atau putih!”

Tidak mengherankan, Tsaagan Nuur, kota asal perempuan berusia tiga puluhan tahun ini adalah permukiman etnis Darkhat yang paling tersohor kemampuan magisnya di seluruh Mongolia. Jadi tidak berlebihan jika Saraa mengklaim semua keluarga Darkhat pasti punya satu atau dua orang yang menjadi shaman, dan setiap keluarga pasti menyimpan drum peninggalan dari nenek moyangnya yang shaman.

Saya mulai kebingungan dengan definisi shaman. Dalam bahasa Mongol disebut sebagai boo, tetapi apa padanannya dalam bahasa Indonesia? Dukun? Rasanya agak aneh, karena dukun dalam bahasa yang kita kenal berkonotasi seperti “dokter” yang menggunakan kekuatan supranatural, memberi layanan kepada pasien. Tetapi shaman yang dimaksud Saraa punya pengertian yang lebih luas: Orang yang punya kemampuan magis dan berhubungan dengan dunia roh. Begitulah kira-kira maksudnya.

Hingga menjelang dini hari, Saraa belum berhenti mengurai cerita. Inisiasi seorang shaman, kata Saraa, bukan dari berguru. “Kalau kamu ingin menjadi shaman, bukan berarti kamu bisa menjadi shaman. Tidak, tidak semudah itu,” Saraa membelalakkan mata sipitnya. “Shaman memang harus mencari guru, tetapi tetap harus punya bakat. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa menjadi shaman. Dan pilihan itu adalah takdir, tidak bisa ditolak. Atau, maut bakal menjemput, seperti yang dialami abang kandung saya.”

Kami tiba di Tsaagan Nuur setelah tiga hari menempuh perjalanan dari Moron, setelah berganti-ganti kendaraan, termasuk menumpang di bak belakang truk. Pukul empat pagi, di tengah gelap gulita dan dingin yang membunuh, Saraa mengetuk pintu rumah kayu kuno milik kakeknya. Di Mongolia, sekali lagi, bertamu pada jam-jam seperti ini adalah hal wajar. Alat transportasi umum maupun pemilik mobil suka sekali mengulur-ulur waktu keberangkatan, ditambah lagi medan yang sama sekali tidak terduga, sehingga penumpang sampai di tujuan di tengah malam atau pagi buta.

Sang tuan rumah, kakek Saraa, berjalan tertatih membuka pintu. Rumah begitu dingin, api di tungku sudah lama mati. Saraa meminta anggota keluarga kakeknya untuk menyiapkan makanan. Sup daging domba yang irisan dagingnya sebesar pergelangan tangan. Kelelahan oleh perjalanan dingin yang panjang, saya tidak sanggup menikmati keramahtamahan pagi buta ini, dan langsung menyelinap ke antara matras dan tumpukan selimut berat di atas lantai. Hangatnya api dari tungku mengantar lelap saya di kota para shaman ini.

“SEMUA SHAMAN SUKA SEKALI MINUM VODKA. Percayalah. Saya tahu kebiasaan mereka,” kata Saraa, saat memborong 10 botol vodka untuk kami bawa ke Taiga, pada keesokan hari. “Untuk semua keluarga. Hadiah ini penting.”

Vodka adalah minuman wajib di Mongolia. Harganya tidak murah, mencapai ratusan dolar Amerika. Kami memilih yang kualitas sedang. Tanpa hadiah-hadiah ini, kata Saraa, mustahil kami nanti bakal diterima oleh para penghuni Taiga.

Membayangkan Taiga sungguh membuat jantung berdesir. Dinginnya Tsaagan Nuur yang membekukan tubuh dan terasa begitu menyakitkan. Kaki saya sudah mengenakan sepatu kulit pinjaman dari keluarga kakek Saraa, dan itu pun jempol masih terasa kaku. Tangan harus senantiasa tersembunyi di balik jubah del tebal dan berat—juga pinjaman dari keluarga tuan rumah—kalau tidak mau jadi beku. Terlebih Taiga adalah daerah sensitif dekat perbatasan Rusia. Orang asing yang berkunjung ke sini harus mengurus berbagai macam surat jalan, mendapat stempel dari Moron dan Tsaagan Nuur, dan terkadang masih diperiksa oleh petugas perbatasan.

Tsaagan Nuur sendiri sudah seperti Rusia. Rumah-rumah kayu berwarna-warni berjajar seperti mainan lego, tersebar jarang, membercaki hamparan padang luas yang putih sempurna. Di beberapa tempat, salju sudah setebal 20 cm. Diinjak saja dan kaki pun terasa nyaris tenggelam.

“Bagaimana di Taiga? Apa lebih ganas daripada di sini?” tanya saya.

“Tentu saja lebih dingin,” Saraa mengerling, “kamu siap berkuda, kan?”

SETIAP PERJALANAN ADALAH PERJUANGAN. Selepas Tsaagan Nuur, sudah tidak ada lagi jalan yang bisa dilalui mobil. Untuk mencapai hutan pinus yang jarang di puncak bukit-bukit itu, orang harus berkuda selama dua sampai tiga hari melintasi padang luas penuh rawa. Bahkan berjalan kaki pun tidak mungkin. Tetapi bagaimana harus berkuda di musim dingin seperti ini? Di musim panas pun saya sudah enggan duduk di atas punggung kuda. Tetapi ada kabar baik: Rawa-rawa membeku di musim seperti ini. Artinya, kami bisa naik
mobil ke sana.

“Kita masih harus menyeberangi sungai,” kata Saraa, “kita harus yakin apakah sungainya benar-benar sudah membeku dan esnya cukup tebal untuk dilewati mobil.” Kami menunggu setengah hari untuk jawabannya.

“Sungai sudah beku,” Saraa datang tergesa-gesa, “Kita bisa naik mobil ke sana.”

Taiga sungguh bukan alam biasa, melainkan dunia khayalan yang begitu nyata, saya membatin dalam benak. Bangsa penghuni Taiga dikenal sebagai Tsaatan. Berbeda dengan orang Darkhat dan Mongol kebanyakan, Tsaatan masih berkerabat dengan bangsa Tuva, bangsa Turki kuno yang kini mendiami Republik Tuva, bagian dari Federasi Rusia. Mereka pun masih bicara bahasa yang mirip dengan bahasa Turki. Sungguh aneh rasanya, walaupun ini pertama kali saya berjumpa dengan orang Tsaatan di Taiga yang begitu terpencil seperti ini, saya masih bisa bercakap-cakap dengan kosa kata bahasa Turki.

Seorang pria Tsaatan berjubah del menghampiri kami dan mengucap salam, “Sain baina uu?” Tak lama, dari dalam kemah-kemah bermunculan kaum perempuan, semua pendek-pendek, dengan penampilan dan karakter fisik tidak jauh berbeda dengan orang Mongol pada umumnya. Tulang pipi tinggi, wajah lebar, mata sipit. Mereka berebutan memilih barang-barang dagangan yang dibawa oleh adik sepupu Saraa. Apa yang dilakukan keluarga Saraa pada prinsipnya memang sambil menyelam minum air. Selain mengantar saya ke Taiga, mereka sekaligus membawa berkarung-karung beras, tepung, garam, dan berbagai jenis makanan untuk dijual di sini. “Karena tempat ini sangat terpencil, barang kebutuhan seperti ini jauh lebih berharga daripada uang,” jelas Saraa.

Di musim dingin, perkampungan Tsaatan hanya dihuni oleh kaum perempuan dan anak-anak. Sedari tadi cuma terlihat seorang pria saja. Para pria lainnya pergi berburu ke hutan-hutan di utara sana, baru akan pulang dua minggu lagi. Istri dari pemilik dan pengemudi mobil yang kami sewa lalu menyombongkan diri pernah menunggang kuda berburu bersama para pria Tsaatan, dan membunuh tupai raksasa. Ia memang “ratu” di antara para pemburu Tsaatan.

“Sekarang kamu juga bisa jadi raja di sini,” Saraa terkekeh oleh candanya sendiri. Tentu saja bukan itu tujuan saya ke sini. Malam hari, Saraa membawa saya ke kemah remang-remang milik seorang perempuan shaman—atau “nenek dukun.” Roh hanya datang setelah matahari tenggelam, kata Saraa. Tidak semua hari cocok untuk mengadakan ritual, kebetulan hari ini Rabu, roh bakal turun. Vodka juga wajib. Tak ada vodka, tak ada arwah. Kami menyerahkan dua botol vodka putih berkualitas prima. Dan sekarang tibalah kami pada saat paling mendebarkan: tawar-menawar harga.

“Ingat, ini bukan main-main. Bukan pertunjukan. Uang ini untuk ongon—roh—jadi berikan uang seikhlasnya,” kata Saraa menerjemahkan omongan sang dukun, “Ingat! Ini berbahaya bagi sang shaman juga. Kalau ongon marah, ia bisa celaka. This is not a game!”

“Sepuluh ribu tugruk,” saya menawarkan.

“Dua puluh ribu tugruk,” kata perempuan Tsaatan yang masih famili sang shaman. Harga yang ia sebutkan setara 15 dolar Amerika.

“Kamu mau berapa lama? Lima belas menit? Tiga puluh menit? Satu jam? Dua jam?” tanya Saraa. Saya hanya ingin mencicip sedikit pengalaman dengan sang shaman, tak perlulah terlalu lama. Semakin lama “atraksi” shamanisme itu semakin mahal tentunya. Kami setuju pada harga 20 ribu Tugruk untuk ritual 15 menit.

“Ada yang ingin ditanyakan kepada ongon?” Saraa menerjemahkan ucapan sang shaman.

“Bagaimana masa depan saya? Bagaimana pekerjaan saya? Mengapa shaman suka vodka?”

Pertanyaan terakhir tidak memerlukan upacara untuk dijawab. Tsetseg, sang perempuan dukun berusia 40 tahunan itu langsung menyambar, “Bukan saya yang suka vodka. Roh-roh yang suka vodka, tetapi mereka tidak suka lampu flash. Boleh memotret, asal tidak membuat silau.”

Duk…duk….duk…. Genderang berbalut kulit hewan ditabuh. Nadanya monoton, lambat, begitu menyihir. Dalam kegelapan malam bulu kuduk saya berdiri. Suara perempuan itu meratap, seperti terengah-engah kehabisan napas. Tubuhnya doyong berputar-putar lambat—kadang hentakannya lambat, kadang menerjang pesat. Kadang ia berdiri tegak, sesekali merunduk, lalu berpusing cepat bak gasing. Jalinan rumbai-rumbai panjang yang menghiasi jubahnya seperti terbang dalam putaran sentrifugal, mengingatkan saya pada tarian tradisional Hawaii tetapi dalam versi horor. Wajahnya begitu misterius ditutup topeng gelap dengan gambaran wajah manusia. Di atas topeng itu adalah tudung
yang terbuat dari bulu mahkota burung elang. Sesekali wajah itu tampak meringis seram dari kelap-kelip api di sudut kemah.

Dan manakah sang ongon? Arwah dan roh yang ia sembah berwujud sempalan kain warna-warni yang digantung di tiang. Sang dukun berkali-kali menunduk di hadapan gantungan kain, sembari tangannya terus menabuh genderang, dan tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan seperti orang mabuk.

Langit biruku! Angkasa rayaku!
Kakek moyangku yang berambut putih,
leluhurku yang selalu abadi
Para nenek dan kakekku, aku mohon dalam sembah, ampunilah aku!

Tetabuhan mengalun mengiring mantra, sayu-sayup berhenti. Senyap. Kami menadahkan bagian bawah dari jubah del panjang kami. Nenek shaman melemparkan sebuah benda mirip kaki kucing kering (yang semula saya kira tikus hutan). Ternyata itu adalah kaki kambing liar berusia tiga tahun.

“Tiga dalam kultur shamanisme adalah angka baik. Kambing liar berusia tiga tahun adalah hewan yang jujur, dan kejujuran adalah hal yang baik,” jelas Saraa.

Benda itu memiliki dua sisi. Kalau mendarat dengan menghadap ke atas, pertanda baik. Kalau tengkurap, buruk. “Toorak,” demikian masing-masing kami harus menjerit ketika barang itu mendarat di jubah. Punya saya (sepertinya) menghadap ke atas.

Sang shaman melepas jubah biru kebesarannya, juga rumbai-rumbai, topeng, dan topinya. Ia kembali menjadi manusia biasa: nenek Mongol gemuk dengan rambut bersanggul, dalam balutan jubah del kumal. Wajahnya putih berkerut-kerut, sementara matanya begitu kecil, seolah terdorong oleh pipinya yang kempal. Keringat mengucur deras di wajahnya.

Shaman Tsetseg mengaku punya sembilan arwah, semua kakek-nenek moyangnya. Tetapi hari ini demi saya, ia hanya memanggil satu roh saja. Efeknya cuma sampai terhuyung-huyung, tidak sampai bergulingan atau memakan api. Semakin banyak arwah yang dipanggil, ritual semakin sulit dan memakan waktu lebih lama. Kalau roh-roh itu marah, mereka malah bisa mencelakakan si shaman, misalnya dengan mendorongnya ke api atau membuatnya cacat.

“Ini bukan main-main,” sekali lagi Saraa mengingatkan.

Bagi shaman, selain tiga, angka sembilan juga istimewa. Sembilan arwah menunjukkan kesempurnaan. Mereka percaya ada 99 surga: 44 di timur dan 55 di barat. Meninggal pada usia 99 tahun adalah impian para shaman.

Lalu, bagaimana Tsetseg menjadi shaman? Ibunya dulu juga seorang shaman. Setelah ibunya meninggal pada tahun 1987, tiba-tiba Tsetseg muda kena epilepsi, dan ia merasakan ada roh ibunya dalam tubuhnya. Lima tahun lalu, bermula dari shaman yunior yang cuma bisa melakukan ritual posisi duduk dan memainkan alat musik kerongkongan, ia kini menjadi shaman senior yang bisa berdiri dan memanggil sembilan roh sekaligus.

“Bagaimana masa depan saya?” tanya saya penasaran.

“Masa depanmu baik. Saat upacara, arwah tidak marah. Kalau kamu orang jahat, arwah pasti marah. Di masa depan, ke mana pun kamu pergi, jangan lupa untuk berdoa kepada langit dan alam, karena semua berasal dari alam,” kata sang shaman dengan suaranya yang terengah-engah.

“Soal pekerjaanmu?” tambahnya, “kalau kamu menemukan pekerjaan di kemudian hari, itu bagus.”

Hanya begitu sajakah untuk biaya puluhan ribu tugruk dan dua botol vodka?

“Tadi kamu tidak bertanya detail,” jelas Saraa, “jadi jawabannya cuma bagus atau buruk.” Untuk pertanyaan yang lebih detail diperlukan ritual yang lebih lama—dua jam, tiga, atau bahkan empat jam—lebih banyak vodka, dan tentu saja, lebih banyak uang.

NENEK PONSUL JUGA SHAMAN. Malah dilihat dari sisi mana pun ia jauh lebih mirip dukun daripada Tsetseg. Tetapi perempuan berusia 75 tahun ini tidak seseram penampilannya. Senyumnya yang menampilkan gusi tanpa gigi selalu membuat matanya bagai terpejam. Kalau sudah bernyanyi, ia tak bisa berhenti. Apalagi Saraa memberitahunya kami membawa vodka, si nenek otomatis antusias. Ia langsung menyanyikan lagu tentang ibu yang mengarungi lautan salju bersama rusa salju.

Ponsul mengambil daun tanaman joodoi (Juniperus communis) kering, membakarnya, dan memasukkan ke dalam mulutnya dalam keadaan menyala. Tanaman juniper ini dianggap langka dan suci, lambang keabadian. Baunya sangat tajam menusuk saat dibakar, saya langsung terbayang aroma hashish dari ganja.

Lima belas tahun lalu, ia terinisiasi menjadi shaman. Seorang biksu datang ke kemahnya, dan meramal Ponsul punya kekuatan magis. Ponsul tidak langsung percaya. Hari itu, ia berjalan kaki pulang dari Tsaagan Nuur kembali ke Taiga. Ini adalah jalan yang sudah dilaluinya seumur hidup. Anehnya, ia malah tersesat.
Selama tiga hari ia berada di alam liar, tanpa makanan sama sekali.

“Masih ada vodka?” tanya Ponsul seraya tersenyum.

“Ada. Jangan khawatir. Nanti kami bawakan lagi dari kemah,” jawab Saraa.

Mendengar itu, ia langsung girang. Sekali lagi, dilumatnya daun juniper yang masih membara. Sungguh lidah shaman bukan lidah biasa, tak gentar oleh api dan vodka.

Jangan bayangkan Taiga adalah tempat yang tidak tersentuh, dan Anda bakal jadi orang pertama yang “menemukan” suku penggembala rusa salju yang “eksotik” dan “hilang” ini. Bahkan para shaman pun sekarang sudah punya telepon genggam, gadis-gadis keturunan mereka berdandan molek mengikuti mode Korea, dan tontonan sehari-hari mereka adalah serial opera sabun dari Seoul.

Listrik sudah merambah ke Taiga. Walaupun hidup mereka berpindah-pindah di puncak gunung terpencil, tetapi dunia luar sudah tidak asing lagi. Panel surya adalah “kunci zaman” bagi mereka. Tenaga matahari kini sudah bisa menggerakkan mesin, televisi, telepon, radio, dan segala modernitas lainnya. Jangan kaget, Anda bisa melakukan booking dengan para shaman dengan mengontak langsung nomor ponsel mereka.

Bisnis shaman, demikian Saraa melabeli, adalah fenomena shamanisme hari ini. Banyak shaman yang membisniskan keahliannya untuk memperkaya diri. Saraa mengisahkan seorang shaman perempuan Tsaatan yang turun gunung ke tepian Danau Khovsgol, yang menjadi tempat konsentrasi para turis, pecinta alam, dan backpacker. Sang shaman mempraktikkan ritualnya dengan imbalan dolar dan tugruk.

“Mereka sudah tidak mematuhi peraturan shaman,” kata Tsetseg, “ritual tidak mungkin dilakukan siang hari, tetapi demi turis mereka memanggil arwah kapan saja semau mereka.”

“Bisnis shaman!” umpat Gambaa—satu-satunya lelaki Tsaatan yang tersisa di perkemahan Taiga, juga seorang shaman, ”mereka membawa ongon ke mana-mana, padahal ongon itu suci, tidak boleh dibawa ke luar Taiga. Mereka naik truk atau bus dengan ongon mereka. Dan kau tahu, kalau tidak ada tempat duduk di bus, di mana mereka duduk? Ya, di atas ongon yang mereka sembah itu.”

“Alam dirusak demi uang,” kata Gambaa, “ini sungguh menakutkan sekali. Beberapa tahun lagi, para arwah pasti akan marah dan menghukum siapa saja yang sengaja merusak alam.”

Mongolia kini berada di tengah terjangan perubahan dan modernisasi. Gambaa mengisahkan datangnya para misionaris dari Korea ke Taiga, membujuk mereka meninggalkan tradisi shamanisme, dan membakar semua ongon.

“Apakah shamanisme akan terus bertahan?” saya bertanya.

“Ya, tentu saja,” jawab Gambaa, penuh percaya diri, “itu adalah hidup kami.”

 
:: My Appearance in Ubud Writers and Readers Festival
PermalinkPermalinkFri, Sep 23, 2011 @04:09 by Avgustin, Categories: My Publication

http://ubudwritersfestival.com/writer/agustinus-wibowo

Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer, travelled overland from Beijing to Central Asia and Middle East. He traveled extensively and settled in Afghanistan as journalist for three years. His works include Selimut Debu (A Blanket of Dust) and Garis Batas (Borderlines).

Festival Appearances
Time travel Saturday, 8 October 2011 10:45 Left Bank Lounge
What is the future of travel writing and how do travellers utilise the genre? Has it all been said and done? Brian Thacker, Fiona Caulfield, Trinity, Agustinus Wibowo
Chair: Peta Mathias
Ticketed

A blanket of dust… Saturday, 8 October 2011 13:45 Left Bank Lounge
Standing at the cutting edge of Indonesian literature, this modern day wanderer has travelled to the ends of the earth, living in Afghanistan for three years. Wander with him in this intimate session.
Agustinus Wibowo with Jamie James

Worlds, in words: making language work Saturday, 8 October 2011 16:00 Neka Museum
How language can transport us on colourful journeys to exotic lands, Agustinus Wibowo, DBC Pierre, Ida Ahdiah, Trevor Shearston
Chair: Rosemary Saye

Boundary riders Sunday, 9 October 2011 09:15 Left Bank Lounge
Boundaries can be both geographical and intellectual. Crossing borders real and imaginary, exploring new ground, writing new territory. Brave new writers for a brave new world
Agustinus Wibowo, Daniyal Mueenuddin, Meg Mundell
Chair: Jaya Savige
—————-

Looking forward to seeing you all in Ubud.

Warmest regards,

Agustinus Wibowo

 
:: A Blanket of Dust---New Edition
PermalinkPermalinkSat, Sep 17, 2011 @14:09 by Avgustin, Categories: My Publication

My first book, A Blanket of Dust (Selimut Debu) is going to be republished with new cover and new photos, to be launched by Gramedia Pustaka Utama this coming 29 September 2011.

————–

[Agustinus] tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
–Kompas–

Afghanistan. Nama negeri itu sudah bersinonim dengan perang tanpa henti, kemiskinan, maut, bom bunuh diri, kehancuran, perempuan tanpa wajah, dan ratapan pilu. Nama yang sudah begitu tidak asing, namun tetap menyimpan misteri yang mencekam.

Pada setiap langkah di negeri ini, debu menyeruak ke rongga mulut, kerongkongan, lubang hidung, kelopak mata. Bulir-bulir debu yang hampa tanpa makna, tetapi menjadi saksi pertumpahan darah bangsa-bangsa, selama ribuan tahun.

Aura petualangan berembus, dari gurun gersang, gunung salju, padang hijau, lembah kelam, langit biru, danau ajaib, hingga ke sungai yang menggelegak hebat. Semangat terpancar dari tatap mata lelaki berjenggot lebat dalam balutan serban, derap kaki kuda yang mengentak, gemercik teh, tawa riang para bocah, impian para pengungsi, peninggalan peradaban, hingga
letupan bedil Kalashnikov.

Agustinus Wibowo menapaki berbagai penjuru negeri perang ini sendirian, untuk menyibak misteri prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dan dilupakan. Menyibak cadar negeri cantik nan memikat, Afghanistan.

 
:: Borderlines: Vodka in Islamic Central Asia
PermalinkPermalinkFri, Sep 16, 2011 @04:09 by Avgustin, Categories: My Publication

Resensi buku Garis Batas di Majalah Tempo. Terima kasih untuk Bpk. Johannes Sumardianta untuk resensi ini.

Vodka di Negeri Islam Asia Tengah

Kisah perjalanan yang menguak betapa Islam Asia Tengah simpel tapi misterius. Warisan sekularisasi Uni Soviet.

GARASIMOV, arkeolog Rusia, menemukan kuburan Timur Leng di Registan, Samarkand, pada 1941. Pada penutup peti raja yang bengis itu tertulis “Barang siapa mengutak-atik jasad Amir Timur akan dihancurkan musuh yang lebih beringas.” Seolah wujud dari nujum itu, beberapa jam sesudah kuburan Timur Leng di bongkar, pasukan Hitler menyerbu dan menduduki Uni Soviet.

Di Uzbekistan, Amir Timur adalah kebanggaan. Di Samarkand, kota terbesar kedua Uzbekistan, patungnya duduk anggun di singgasana, menggengam sebilah pedang. Pada masa kegila kegemilangannya di abad ke-14, Samarkand merupakan sentra peradaban Islam, kota di Jalur Sutra.

Agustin Wibowo, jurnalis dari Lumajang, Jawa Timur, yang kini bermukim di Beijing, menuturkan kemegahan Islam di Asia Tengah itu melalui Garis Batas : Perjalanan di Negeri-negeri Asia Tengah. Inilah dokumentasi petualangannya menjelajahi pelbagai negeri pecahan Uni Soviet-Tajikistan, Kirgistan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turmenistan. Di negeri-negeri itu terjadi perkembangan yang berbeda-beda. Tajikistan terkapar dalam kemiskinan. Kirgistan dan Kazakstan bergemilang kemakmuran kapitalisme. Dan Turkmenistan diliputi nostalgia sosialisme utopis.

Tradisi Islam telah dipenggal Uni Soviet. Peradaban Islam meredup, hampir punah. Sholat, puasa, huruf Arab dan azan jauh dari kehidupan kebanyakan muslim Uzbekistan. Ucapan “assalamualaikum” berubah menjadi “halo” dalam bahasa Uzbek. Masjid jadi obyek wisata. Madrasah disulap jadi gudang dan toko. Tempat ziarah dijadikan museum ateisme-ruang pamer dogma tanpa Tuhan. Muslim Uzbekistan akrab dengan vodka.

Agustin melihat, sejak Uzbekistan merdeka, Islam dihidupkan kembali dengan cara dan tujuan berbeda. Presiden Islam Karimov menjadikan Amir Timur simbol untuk melibas gerakan Islam radikal. Padahal Amir Timur, pendiri Dinasti Moghul, orang Mongolia. Masjid terus dikontrol pemerintah. Azan tak boleh dikumandangkan. Isi khotbah jumat disensor. Jenggot lelaki jadi masalah sensitif. Kaum militan ditangkapi. Jika teroris tertangkap, bapaknya juga diciduk. Teroris dianggap produk kesalahan orang tua mendidik anak.

Uzbekistan paling anti soviet. Negeri ini memiliki sejarah dan peradaban kuno Jalan Sutra, masa lalu buat mengukuhkan identitas. Bahasa Persia pernah menjadi Lingua franca. Rudaki, Rumi, dan Ferdowsi menulis syair yang memuja Samarkand dan Bukhara dalam bahasa Persia. Kesusastraan Persia berjaya ketika Umar Khayam mengugubah Rubaiyat, Amir Kusro menulis Gazhal, dan Ferdowsi mengarang epos Shahnama. Tapi kebesaran masa lalu itu kini hanya jadi latar belakang modernitas.

Tajikistan, yang terjepit dan terpencil di daratan Asia, lebih buruk lagi, teronggok di jajaran sepuluh negara termiskin di dunia. Ekonominya berantakan sejak Uni Soviet bubar. Birokrasinya korup dan ruwet. Penggangguran tersebar di sekujur negeri. Banyak orang tak punya tujuan jelas. Kaum lelaki melepas kebosanan dengan menenggak vodka sampai geloyoran. Kriminalitas akibat alkohol, vodka terrorism membuat malah penuh horor.

Umat Islam Syiah sekte Ismaili di Tajikistan tak berhaji. Mereka juga bisa dikatakan tak berpuasa. Mereka beribadah bukan di masjid, melainkan di jemaatkhana, rumah jemaah. Menyediakan tumpangan dan makanan bagi musafir seperti Agustin merupakan ibadah haji mereka. Menolong musafir wajib hukumnya. Konsep tamu, mehman, mengakar kuat di masyarakat yang hidup di pegunungan Pamir ini. Tamu adalah anugerah Tuhan.

Kirgistan dan Kazakstan merupakan bangsa nomad Asia Tengah. Mereka menganut sunni. Tukmenistan negeri bangsa pengembara padang pasir yang diperintah diktator Turkmenbashi. Rakyat dicuci otak dengan bilasan ideologi. Orang hanya boleh tahu sesuatu jika penguasa menganggap perlu. Diktator Turkmenbashi menulis buku panduan jiwa Ruhnama. Konon, dia sudah meminta izin Tuhan siapa yang membaca bukunya tiga kali langsung masuk surga. Turkmenistan memang bukan lagi negeri komunis tapi tetap terisolasi dalam utopianya sendiri.

Kazakstan, mirip Uni Emirat Arab negeri kaya baru : menikmati kemakmuran mendadak berkat minyak dan gas. Sejak merdeka, Kazakstan terus memordenisasi diri. Negera ini paling gandrung pada Uni Soviet. Ada ungkapan kalau mau jadi orang Rusia, belajarlah menjadi Kazak.

Kazakstan merupakan negeri terakhir yang mendapat pengaruh Islam. Kultur nomas yang yang tak terika aturan ketat membuat Islam dijalankan sangat longgar. Hampir tak ada umat Islam yang bisa membaca huruf Arab. Dan kini negeri ini menjadi budak materialisme. Di Tajikistan orang-orang miskin tapi murah hati mengundang Agustin menginap. Di Kazakstan bahkan buat bertegur sapa pun orang tak punya hasrat. Modernitas kemajuan dan kemakmuran berbanding terbalik dengan kedekatan hubungan antar manusia. Kekayaan menjadi sekat relasi manusia.

Di bukunya ini Agustin menunjukkan bahwa ia bukan sekedar explorer, melainkan observer. Ia pernah dua tahun bermukim di Afganistan. Petualangannya sebagai backpacker didukung kecakapan etnografi. Buku ini tak ubahnya kitab Agustin terdahulu, Selimut Debu, tentang Afganistan : ia mampu menyingkap kesuraman sekaligus kemolekan dan keindahan perlbagai negara”Stan” yang dikunjungi

*J.Sumardianta, grur SMA Kolese de Britto – Yogyakarta – Tempo Edisi 28

 
:: National Geographic Traveler: Kilau Warna dalam Selimut Debu
PermalinkPermalinkWed, Jul 27, 2011 @18:07 by Avgustin, Categories: Journey 2005-2006, My Publication, About Afghanistan

Kilau Warna dalam Selimut Debu
Perang puluhan tahun tak mengoyak kemolekan alam apalagi impian, tradisi, dan kehormatan pemegang peradaban kuno ini.

Kata apa yang paling sering dihubungkan dengan nama Afghanistan? Perang? Kemiskinan? Taliban? Teror? Bagi kebanyakan orang, Afghanistan membawa kesan kelabu dan melankolis. Tetapi di negeri yang tak kunjung usai dihajar perang puluhan tahun ini ternyata juga ada impian, tradisi kuno, kebanggaan, dan peradaban. Afghanistan adalah negeri yang terselubung debu. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki, debu langsung menyeruak menembus hidung, rongga mulut, gigi-geligi, dan memenuhi tenggorokan. Bulir-bulir debu menyelubungi seluruh negeri, laksana cadar pekat yang menyembunyikan misteri kecantikannya. Debu bukan sekadar debu. Bagi orang Afghan, debu itulah dari mana mereka berasal, dan ke mana nanti mereka berakhir. Debu adalah sejarah mereka, masa lalu dan kebanggaan, kecintaan dan penghormatan. Dari debu yang tanpa makna itulah kebanggaan Afghanistan bermula.

Kebanggaan peradaban kuno berawal dari gunung-gunung cadas, menyokong perputaran roda sejarah umat manusia. Tanah gersang ini pernah menjadi pusat peradaban Buddhisme, dan masih menyisakan bangunan-bangunan raksasa yang menampilkan keluhuran budaya Islami. Di negeri yang dilanda perang silih berganti ini, kebanggaan dan kehormatan tak boleh dikorbankan sekalipun nyawa menjadi taruhan. Keluhuran budaya Afghan adalah mengorbankan diri demi melindungi tamu. Keramahtamahan adalah jalan hidup di negeri berdebu ini. Sekalipun tidak punya apa-apa, mereka tetap berusaha menyajikan roti bagi musafir malang. Perjalananan mengelilingi negeri ini adalah seperti menyibak selubung demi selubung debu impresi yang membungkus. Perang dan kemiskinan adalah gambaran umum Afghanistan. Tetapi ternyata kehidupan di sini adalah sebuah prosesi penuh warna.

Siapa pun yang datang ke Afghanistan pasti akan terpukau dengan kedahsyatan masjid-masjid kuno Herat, atau mozaik sarat seni di kota suci Mazar-e-Sharif. Pecinta alam akan menganga menyaksikan gunung-gunung salju mencakar langit di Pamir, atau kelamnya danau mukjizat di Bamiyan. Tetapi yang paling penting dari itu semua adalah tatap mata orang Afghan yang begitu tajam menghunus. Karena itulah sumber kedahsyatan warna-warni di bawah selimut debu.

 
:: My Journey
This blog contains my current and previous trips. You can browse the blog categories to read my previous trips (some written in Indonesian language only). And I'd be very happy if you also give comments in my blog.


February 2012
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
 << <   > >>
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29        

:: Categories

:: Archives

:: Search
 
Web avgustin.net




:: Syndicate this blog
 


.:Disclaimer Notes:.
You may not distribute any of the material in this sites without permission from Avgustin.Net
This blog is powered by
b2evolution
Agustinus Wibowo photography
© 2005 - 2008
eXTReMe Tracker