| | :: U-MAG: Burkutchu, the Eagle Hunters (Mongolia) | | U-Mag, March 2010 Edition
BURKUTCHU – SI PEMBURU ELANG
 
Wajah Mongolia ini barangkali jauh dari bayangan banyak orang, tatkala Agustinus Wibowo merekamnya pada musim gugur lalu: sabana hijau beralih menjadi samudra salju, dan para pengelana berpindah dari kemah nomaden ke gubuk-gubuk kayu agar lebih hangat. Inilah negeri tempat tradisi ribuan tahun tetap hidup dengan jaya di dalam diri para pemburu serta elangelang raksasa yang merajai angkasa raya.
 
Musim panas lewat diam-diam, meninggalkan jejak di padang rumput yang cokelat kekuningan. Mongolia—yang terkungkung di tengah daratan mahaluas—tiba-tiba sunyi dari hiruk-pikuk para pelancong. Semua wisatawan bergegas meninggalkan negeri itu di ambang musim gugur. Hawa dingin menjalar cepat dan sungguh tak bersahabat. Salju melumat seluruh negeri sejak pertengahan September. Suhu anjlok dari hari ke hari. Kehijauan padang rumput beralih menjadi samudra putih yang menggentarkan hati.
Mongolia adalah tanah yang ramah, hangat, dan indah pada Juni hingga Agustus. Di musim panas singkat ini, matahari terbit di waktu subuh, bersinar terik sepanjang hari, dan terbenam menjelang tengah malam. Tapi musim gugur datang terlalu cepat, sebelum orang tanak menikmati sinar surya.
Angin dingin dan salju September hanyalah ”pembuka” sebelum Mongolia mengarungi hari-hari dengan temperatur jauh lebih ganas: bisa minus 60 derajat Celsius. Embusan napas langsung menjadi es, darah membeku, pembuluh perih tak keruan. Seperti Siberia, kata Anda. Mongolia tak jauh berbeda, kata saya.
Di ujung barat, di Provinsi Bayan Olgii, kita berhadapan dengan realitas Mongolia yang lain. Lupakan kaum shaman yang masyhur, karena di sini berdiam bangsa minoritas Kazakh pemeluk Islam. Lupakan tenda-tenda putih bangsa nomaden, karena bangsa Kazakh (walaupun di musim panas tinggal di tenda seperti bangsa Mongol) kini sudah pindah ke rumah kayu yang hangat untuk melewatkan ganasnya musim dingin.
Tapi lelaki Mongolia tetaplah pria-pria yang dipilih Genghis Khan untuk menaklukkan dunia. Sementara lelaki Jawa memelihara perkutut dalam sangkar, pria Mongolia sampai kini memelihara budaya yang nyaris punah: berburu elang. Sebuah tradisi yang melibatkan kegagahan, keberanian, kejantanan.
***
Elang itu mengepakkan sayap lebih panjang daripada rentang tangan orang dewasa. Di langit biru mahaluas, hewan raksasa itu melesat, melayang lambat, terbang mengitar, bermanuver dan berakrobat, mengincar sesuatu dengan matanya yang awas. Lalu hap… burung itu menukik tajam ke arah kami yang tengah memandang di daratan dengan terkagum-kagum.
Seorang pria Kazakh mengendalikan kuda dengan anggun. Kepalanya mendongak, matanya menyipit, perhatiannya hanya terpaku pada elang di angkasa. Tubuh lelaki tangguh ini berbalut baju dari bulu tujuh ekor serigala. Topinya menjuntai lebar, dibikin dari bulu kaki rubah. Dia lebih mirip hewan berbulu, sebuah kamuflase bangsa pemburu yang mengincar mangsa di alam liar. Di mata saya, lelaki Kazakh ini seperti datang dari abad pertengahan melalui mesin waktu.
Tangan kirinya mengendalikan kuda yang berlari cepat. Tangan kanannya terbungkus sarung tebal dari kulit hewan, terulur menengadah. Di atas telapak tangannya, ada seiris kecil daging merah.
Dalam sekejap, burung itu melesat dari awang-awang, menukik tajam. Sssttt… sssttt… sssttt… hanya terdengar kepakan sayap yang membahana di tengah embusan angin dingin. Burung itu mendarat di atas telapak tangan si penunggang kuda. Kakinya yang tajam mencengkeram erat-erat tangan kanan yang terbungkus sarung tebal. Tanpa perlindungan ini, kulit manusia bisa hancur tercabik oleh kuku elang, yang setajam pisau tukang jagal. Dengan kuku yang sama, burung raksasa ini bisa membunuh domba, rubah, kelinci, hingga anak sapi dan serigala.
 
Penonton bersorak girang. Penonton? Ya, ini acara tahunan Golden Eagle Festival, tempat berkumpulnya pemilik elang jagoan dari seluruh penjuru Bayan Olgii. Lelaki berkuda yang ditepuki itu menyeringai bangga. Elang peliharaannya terbukti tangguh. Burung seberat tujuh kilogram itu terbang dari puncak bukit yang menjulang tinggi ratusan meter di belakang lapangan, tapi masih bisa dengan titis menyambar sejumput kecil daging segar yang dibawa pemiliknya.
Keawasan mata Aquila chrysaetos, golden eagle, alias elang besar dari Pegunungan Altai di Mongolia Barat adalah yang terbaik di dunia. Jarak pandangnya sampai sepuluh kali lebih tajam daripada penglihatan manusia normal.
Dalam bahasa Kazakh, pria yang menyeringai itu dikenal sebagai burkutchu, dari kata burkut, yang artinya elang, dan chu, ahli. Dalam bahasa Inggris, mereka disebut sebagai falconer atau eagle hunter, pemburu elang. Jangan salah, pemburu elang tidak memburu elang, tapi berburu bersama elang. Namun, tentu saja, sebelum memiliki elang pemburu, mereka harus benar-benar memburu sendiri elang yang akan dipelihara.
Sejak ribuan tahun lalu, elang menjadi alat berburu yang mematikan. Tak perlu senapan, peluru, racun, atau jala. Pertandingan ketitisan elang yang diterbangkan dari puncak gunung untuk memburu mangsa di lapangan adalah penyederhanaan kultur perburuan bersama elang.
Dulu, olahraga ini dimonopoli kaum ningrat. Konon Kaisar Mongol Genghis Khan punya pasukan elite pemburu sekaligus pawang rajawali. Cucunya, Kubilai Khan, sering mengadakan ekspedisi raksasa perburuan bersama ribuan rajawali pilihan. Seiring dengan meluasnya kekuasaan imperium Mongol, tradisi ini menyebar hingga ke Eropa dan Arab. Kini kepemilikan rajawali dan elang beralih ke para syekh Arab yang bergelimang harta.
Namun jangan bandingkan bangsa-bangsa itu dengan kebanggaan orang Kazakh akan elang dan rajawali. Di sini, elang tak hanya muncul dalam simbol-simbol, hikayat, atau mitologi. Elang adalah bagian hidup nyata. ”Sejak bangsa Kazakh terlahir ke bumi, kami sudah menjadi pemburu elang,” kata Baydi, kakek tua dari Bayan Olgii, yang sudah lebih dari 50 tahun menjadi pemburu elang.
 
Baydi adalah salah satu tetua pawang elang Kazakh Mongolia. Di sekujur tubuhnya, segala kisah perburuan seolah melekat: pada keriput wajahnya, sejumput jenggot putih yang menjuntai, topi bulu rubah yang memahkotai kepalanya, balutan jubah hitam kebesarannya, juga kudanya yang perkasa. Elang Kakek Baydi tampak garang dengan paruh bengkok tajam, membuatnya seperti tokoh legenda klasik yang kesasar di dunia modern. Saya membayangkan, kala bangsa Kazakh ”terlahir” ke dunia ribuan tahun silam, penampilan mereka boleh jadi tak berbeda dengan Baydi.
Atamurat adalah nama pemburu lain dari generasi lebih muda. Dua elang besar hidup bersama keluarganya di kemah dan di rumahnya yang sempit. ”Tentu saja burung elang ini lebih bahagia hidup di rumah saya daripada di alam liar,” katanya dengan bangga. Berasal dari Dusun Tsengel, lelaki 43 tahun ini tergolong baru di dunia perburuan elang. ”Alhamdulillah, elang saya sudah berumur satu tahun. Bisa kau lihat sendiri betapa hebatnya ia.”
Elang milik Atamurat sudah setinggi lutut—posturnya tak jauh berbeda dibanding elang para pemburu lain. Baru saya tahu, ternyata bayi elang tumbuh pesat pada usia pertama. Setelah mencapai ukuran standar, ukuran tubuh elang tak banyak berubah lagi sampai akhir hayatnya.
Atamurat bercerita, elang miliknya dia culik dari puncak gunung ketika hewan ini masih bayi mungil, dan berkaok malang di sarang, menantikan induknya membawa makanan. ”Berbahaya? Tentu saja! Induk elang adalah hewan terganas di dunia, apalagi kalau melihat anaknya diculik atau disakiti,” kata Atamurat.
Atamurat dan para pemburu lain tak merasa berdosa memisahkan bayi elang dari induknya. ”Saya justru membuatnya lebih berbahagia,” ujarnya. ”Di alam liar, betapa susahnya mereka memburu mangsa. Di rumah saya, setiap hari saya menyediakan daging segar,” kata Atamurat.
Lauren, falconer asal Amerika Serikat, punya pendapat berbeda dengan Atamurat. Menurut Lauren, elang jagoan itu bukan bayi elang yang diculik dari sarangnya, melainkan elang dewasa yang ditangkap dari alam liar. Bayi elang adalah makhluk lugu yang masih disuapi. Tapi elang dewasa yang sudah pernah memburu mangsa jauh lebih tangguh. Ia sebenarnya sudah siap jadi pemburu, tak perlu lagi banyak dilatih. ”Mata, kaki, paruh, dan sayapnya, semua sudah sempurna,” ujar Lauren.
Gadis muda ini adalah satu dari sekitar 5.000 falconer di Amerika. Dia mendapat beasiswa Fulbright untuk mendalami tradisi berburu elang di Bayan Olgii. Lauren beruntung bisa memperdalam pengetahuannya langsung bersama para pemburu Kazakh.
 
Elang, menurut Lauren, adalah hewan yang pintarnya sedang-sedang saja serta mudah cemburu. Manusia memanfaatkan kecemburuan itu untuk menjebaknya. Istilahnya: jealousy trick. Caranya? Daging rubah atau serigala segar ditaruh di tanah lapang. Lalu kumpulkan burung predator lain. Misalnya gagak, rajawali, atau alap-alap.
Nah, sebagai raja angkasa, elang tak sudi melihat burung-burung predator kecil yang kalah perkasa itu berpesta-pora, sementara ia sendiri kelaparan. Dengan kepakan sayapnya yang kuat, ia meluncur untuk menyambar umpan tadi. Hap…. Begitu mendarat, dia langsung dikurung oleh jaring-jaring yang dipasang para pemburu di sekeliling jebakan. Semakin kuat ia mengepak, semakin erat jaring-jaring membelitnya. Nasibnya akan segera ditentukan oleh si pemburu. Sebab, tak semua elang yang tertangkap langsung dipelihara dan dijadikan hewan pemburu.
Para burkutchu hanya senang memelihara elang betina. Selain lebih ganas, ukurannya jauh lebih besar daripada para pejantan. Elang pemburu juga tak boleh terlalu tua. Idealnya berusia satu hingga dua tahun.
Setelah ditangkap, burung itu harus dilatih dulu untuk disiapkan menjadi pemburu yang tangguh. Hari-hari pertama adalah yang paling berat. Burung itu akan terus berontak. Hewan malang itu dibiarkan lapar berhari-hari. Ia harus belajar bahwa ia bukan lagi makhluk merdeka. Ia harus belajar mengenal siapa tuannya, siapa pemiliknya, yang akan menentukan nasibnya.
Sang pemburu akan meletakkan burung itu di atas tangannya sepanjang hari sembari memberikan umpan daging mentah. Dengan sigap elang itu akan menyambar daging. Tapi tidak, tidak semudah itu. Pemburu dengan sigap menarik kembali elang yang terikat kakinya. ”Kenali dulu siapa pemilikmu, baru engkau boleh makan”. Demikian berhari-hari elang itu ”disiksa” sehingga ia melepaskan keliarannya dan berubah menjadi makhluk yang patuh.
***
Hewan raksasa itu merana. Matanya tertutup tudung hitam. Kakinya terikat rantai. Ia tak beranjak dari balok kayu di sudut ruangan. Sayapnya terkadang mengepak, punuknya sesekali berdiri, paruhnya membuka, memamerkan keg anasan sang raja angkasa. Tapi ia terpenjara, di sudut rumah sederhana milik Manaa, sang pemburu elang.
 
”Ini burkut istimewa,” kata Manaa, pria 60 tahun, sembari terkekeh, ”Dia calon juara besar.” Jenggot Manaa sudah memutih, dan kerut yang dalam menghiasi wajahnya yang sepuh. Duduk di atas kursi kayu rendah, sambil menyeruput teh hitam asin, Manaa tak henti berkisah tentang kegagahan elangnya.
Tapi, di sudut ruangan ini, kegagahan itu terlunturkan oleh reyotnya rumah Manaa, oleh rantai besi yang mengikat kaki tajamnya, oleh tudung mata hitam yang membutakannya. Ia ibarat bangsa besar yang telah dilucuti kebang- gaannya, terkulai tak berdaya.
Mengapa elang peliharaan Manaa ini harus dibutakan sepanjang hari?
Elang adalah binatang yang teramat aktif, kata Manaa. Ketika matanya dibuka, ia akan memindai segala penjuru, mencari mangsa. Ia menjadi liar, mengepakkan sayap, siap terbang dan menerkam. Tapi di rumah ini mana ada mangsa? Bisa-bisa dia menghabiskan energinya sendiri.
”Otak burkut itu sebenarnya sederhana. Begitu matanya ditutup tudung, pikirannya cuma satu: malam sudah tiba. Binatang ini jadi mengantuk, tenang, kalem. Ia tidak melakukan hal tak perlu seperti mengincar mangsa, mengepakkan sayap, atau memberontak.”
Manaa menamai elangnya Sary Tenek. Sary artinya kuning, dan tenek berarti elang berusia dua tahun. Sebagai bangsa pencinta elang, Kazakh punya lebih dari sepuluh kata spesifik untuk menyebut elang pada berbagai tahapan umur.
Setiap hari dia menyediakan setengah kilogram daging domba untuk Sary. Tapi Manaa sengaja membuatnya kelaparan, supaya Sary lebih beringas ketika musim perburuan tiba. Elang itu hanya diberi makan malam hari, ketika tudung mata dibuka. Bret… bret… sayapnya mengepak mengikis kesunyian malam. Paruhnya yang bengkok menyeringai seram. Bulu punuknya berdiri tegak. Kepalanya berputar ke segala penjuru, dan matanya tajam. Dengan rakus, elang itu menyantap potongan daging di atas telapak tangan Manaa yang dibungkus sarung tebal.
”Memelihara elang sama sekali bukan untuk memperkaya diri, kau tahu itu,” kata Manaa. Lebih-lebih di musim panas, ketika hewan ini sama sekali tak mampu berburu, ”Kami harus menghidupinya dengan lima kilogram daging. Seekor domba hanya cukup untuk makanan elang tiga hari saja Tak mudah, karena kami pun orang miskin. Biarlah keluarga ini kelaparan,
asalkan elangku tetap kenyang,” tutur Manaa.
Elang ini bukan sekadar binatang peliharaan atau senjata perburuan. Ia menjadi bagian keluarga penggembala tua ini, bahkan bagian dari masa depan. Sedari kecil, anak-anak Manaa sudah dilatih untuk menangkap dan berburu bersama elang.
Saya memandang elang itu lekat-lekat. Ia tengah mencengkeram kuat-kuat balok kayu di sudut kamar. Sayap bulunya mengembang, gagah dan indah. Perburuan elang adalah gabungan kecintaan kepada alam, ketangguhan lelaki pengembara, kebanggaan suku bangsa padang rumput. Perburuan elang adalah seni dan tradisi turun-menurun. Di dalamnya ada semangat bertahan hidup, dan keberanian menaklukkan tantangan.
Manakala bangsa-bangsa di padang Asia Tengah sibuk mencari identitas dan eksistensinya, orang Kazakh dengan bangga memamerkan burung elang mereka.
Hari itu, pada musim panas lalu, saya berdiri di tanah lapang luas bersama ribuan manusia dari segala penjuru Bayan Olgii. Mereka dating untuk menonton Golden Eagle Festival. Mereka ingin menyaksikan para pemburu beraksi bersama elang-elang jawara. Melayang dari puncak bukit tinggi menjulang, raja angkasa itu dengan titis menyambar sejumput kecil daging segar di tangan pemiliknya.
Seseorang berkata kepada saya: ”Tataplah mata elang yang jernih tajam itu jika berani. Di dalamnya, engkau akan melihat senyum kemenangan lelaki Kazakh.”
————————————————————–
Catatan Tambahan:
Kazakh
>> Kazakh adalah satu bangsa pengembara yang mengarungi padang-padang rumput Siberia, Mongolia, hingga Asia Tengah. Selama ribuan tahun mereka berkelana bersama kawanan ternaknya, dari padang ke padang. Mereka mencari surga rerumputan segar, aliran sungai yang menghidupkan, dan hewan buruan yang boleh dimangsa.
>> Tanah tumpah darah bangsa Kazakh, kini menjadi Republik Kazakhstan, sempat dijajah Rusia. Pemerintah komunis Uni Soviet berusaha keras menghapuskan tradisi nomaden, termasuk perburuan elang. Setelah seratusan tahun dijajah Rusia, tradisi ini berada dalam bayang-bayang kepunahan.
>> Justru di Mongolia, tempat bangsa Kazakh hidup sebagai minoritas di pedalaman, perburuan elang masih bertahan hingga kini.
| | | :: My First Book, "BLANKET OF DUST --- SELIMUT DEBU" is Launched in Indonesia | | Finally…. after long time of editing and rewriting, and editing again, and rewriting again, (I already have lost count about the process), my first travel narrative book will be launched by Gramedia Pustaka Utama, one of the leading publishers in Indonesia, by January 12, 2010. This book is about Afghanistan, based of my travel around the country by hitchhiking in 2006, but the contents are enriched with my contemplation after my two and half year stay in Afghanistan as a journalist. The first edition is in Indonesian, but hopefully an English version will come out soon as well.
——————————————–

http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=KAHI4419&kat=4
Selimut Debu - Agustinus Wibowo
468 halaman Rp69.000,-
Dilengkapi foto-foto berwarna.
No GM 40101100002
ISBN: 978-979-22-5285-9
Pada tahun 2006, Agustinus mulai melintasi perbatasan antar negara menuju Afghanistan, dan selama dua tahun ia menetap di Kabul sebagai fotografer jurnalis—catatannya di buku ini adalah hasil perenungan yang memakan waktu tak singkat.
Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan “Tanah Bangsa Afghan” dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan—sampai akhirnya ditemukan kembali.
“As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided.” -The Jakarta Post
“Agustinus tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.” - Kompas
| | | :: Aplaus: Single Fighters - True Story Unveiled | | http://www.aplausthelifestyle.com/result_detail.php?id=1245&index=36
Single Fighters: The True Story Unveiled
Teks oleh Linda Yusmiyani & Judika B.M
Foto Bobby Wongso Wennars, Istimewa & dari berbagai sumber
Menjadi single fighter bukan berarti harus merasa sendiri. Justru merupakan proses perjuangan untuk melatih melupakan ego, percaya diri dan mensyukuri kemandirian yang telah dianugerahkan.

BANYAK hal yang harus dilewati untuk menjadi sukses karena kemandirian. Mulai dari jalan berbatu, berliku, bertemu dengan orang yang salah, merasakan jatuh, sebelum akhirnya menggenggam sukses sejati seperti mereka ini.
1.Go Far And Experience The World
Agustinus Wibowo (Backpacker)
Masih muda, tapi pengalaman backpacking-nya segudang. Apalagi kegigihan dan kemandiriannya dalam menelusuri hampir seluruh negara di Asia.
Awal petualangan backpaking kamu gimana sih?
Tahun 2001 saya terinspirasi seorang teman perempuan dari Jepang yang melakukan perjalanan sendiri mengelilingi negara Asia Tenggara, tanpa menguasai bahasa selain bahasa Jepang. Dari petualangannya, setahun kemudian saya melakukan backpacking pertama ke Mongolia, berkemah mengelilingi negeri itu selama tiga bulan.
Perjalanan backpacking kamu sudah ke mana aja?
Tahun 2005, ketika baru lulus kuliah di Beijing, saya bercita-cita melakukan perjalanan panjang dari Beijing ke Afrika Selatan, melalui jalan darat. Perjalanan saya bertahan selama 1 tahun 7 bulan, melintasi pegunungan Tibet, Nepal, lalu ke gurun pasir India, pegunungan di Pakistan Utara. Lalu bekerja sebagai sukarelawan gempa Kashmir, ke pedalaman Pakistan, berkeliling Afghanistan dengan hitchhiking, lalu ke Iran, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Sekarang di Mongolia lagi. Merencanakan negara yang akan dikunjungi selanjutnya.
Hal-hal yang pernah menghambat perjalanan kamu ada nggak?
Setelah hampir berkeliling negara Asia Timur, saya pernah kehabisan dana sehingga kembali ke Afghanistan, bekerja sebagai jurnalis selama sekitar dua tahun. Ketika bersiap melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah, ibu saya jatuh sakit mengidap kanker ganas. Sehingga saya pulang dan menerbangkan beliau berobat selama dua bulan di Shenzhen. Setelah sembuh, saya melanjutkan perjalanan. Kini saya di pegunungan Mongolia Barat dan akan berkeliling selama 3 bulan. Pernah juga saya terhambat karena visa/izin tinggal tak bisa diperpanjang, sementara saya masih ingin tinggal lebih lama. Tetapi saya percaya bahwa setiap hambatan ada hikmahnya.
Wow… Benar-benar petualangan yang mendebarkan ya! Trus, kalau kamu disebut the real single fighter setuju?
Saya melakukan perjalanan sendiri tanpa travel companion, agar lebih banyak belajar, terlebih berinteraksi dengan penduduk lokal. Misalnya ketika bepergian ke pegunungan Pamir di Afghanistan Utara. Tempat ini sangat terpencil. Harus melakukan pendakian gunung terjal selama 5 hari berkuda, melintasi jurang dan sungai deras. Sementara saya hanya berbekal satu tas ransel kecil dan tak bisa berkuda. Untung, tiba-tiba rombongan tentara perbatasan Afghanistan yang hendak mendaki gunung tersebut menawarkan bantuan menjadi rekan seperjalanan hingga mencapai puncak padang rumput pada ketinggian 4.500 meter—di mana kaum nomaden Kirghiz menggembalakan ternak. Perjalanan ini menakutkan, karena jalanan hanya selebar 30 cm di tepi jurang terjal, sedangkan saya harus berlatih keseimbangan di atas kuda yang mendaki bukit terjal, terkadang nyaris tegak lurus. Salah sedikit berarti maut. Lewat bantuan mereka, saya bisa mencapai tempat tersebut. Bukan berarti saya selalu single fighter, karena selalu ada yang membantu.
Arti single fighter buat seorang Agustinus?
Menjadi single fighter adalah melatih untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Tidak semua dapat kita atasi sendiri. Menjadi single fighter justru membuat saya merasa saya tak pernah sendiri. Mencapai destinasi sudah bukan yang terpenting. Perjuangan perjalanan itulah yang memberi makna. Saya belajar melupakan ego, lebih fleksibel, dan percaya bahwa semua ada yang mengatur.

2.Success: The Fruit of Hardwork
Joy Destiny Tobing (Soloist)
Betapa gemilangnya dara satu ini. Bermodalkan nyali besar, percaya diri serta bakat yang tak terhingga, Joy sudah menunjukkan segenap potensinya di jalur solo. Inilah sebagian rentetan cerita kemandirian dara yang sudah piawai nyanyi sebelum dinobatkan sebagai jawara Indonesian Idol I.
Seperti apa perjalanan seorang Joy sekarang?
Sekarang, untuk menjadi penyanyi mungkin nggak sesulit dulu. Ini tidak bagi saya, karena menyanyi bukan hal baru lagi, karena sedari usia lima tahun, saya sudah menjajaki dunia tarik suara. Sudah 24 tahun saya di sini. Waktu TK saya berbeda dengan teman-teman karena komposisi suara dan keberanian yang saya miliki. Bakat menyanyi ini selain karena keturunan, juga karena selalu diasah. Semua yang ada sekarang tidak mudah diraih lho. Sebab waktu yang saya pakai untuk mencapainya juga nggak sedikit.
Poin penting yang kamu andalkan untuk tetap bisa survive?
Bagian tersulit untuk tetap survive adalah ketika mengatur diri sendiri. Selain itu, kerendahan hati bagi saya juga penting. Apalagi sekarang banyak kesempatan untuk menjadi penyanyi. Jadi sebenarnya nggak ada yang perlu ‘terlalu’ dibanggakan ketika menerima anugerah sebagai penyanyi.
Lantas seberapa penting ikatan manajemen terhadap eksistensi penyanyi?
Keduanya punya nilai positif dan negatif. Positif karena keduanya bisa saling menghargai, transparan dan bertanggung jawab. Namun nggak bisa dipungkiri beberapa aturan manajemen cukup memberatkan penyanyi demi mengejar rating yang mempengaruhi manajemen.
Eksistensi dan percaya diri kamu bergantung pada…
Tuhan. Selain itu, keluarga dan teman-teman dekat juga menjadi sokongan untuk tetap eksis. Hm… sebenarnya bergantung dengan sesama manusia itu perlu, tapi jangan sampai kecenderungan, karena ini bisa membuat terlena dan kita menjadi kurang mandiri.
Single fighter adalah…
Sebuah anugerah. Semua orang diberi kesempatan untuk memilih. Hanya diri sendiri yang bisa menentukan, kemandirian itu mendingan diterapkan daripada disimpan saja. Pemain single fighter umumnya tau betul kekurangan dan kelebihannya dan akan mengkoreksi kesalahan untuk perbaikan ke depan. Sikap ini nggak dimiliki semua orang. Itu sebabnya menjadi single fighter adalah sebuah anugerah. | | | :: LION-MAG: Heaven in Afghanistan | | SURGA DI BUMI AFGHAN
Teks dan foto-foto: Agustinus Wibowo
 
Adakah surga di Afghanistan? Lupakan gurun tandus dan desingan badai pasir. Lupakan perang, mayat bergelimpangan, ledakan bom. Di sini yang ada hanya kesunyian dan kedamaian di padang rumput hijau membentang, dikelilingi gunung bertudung salju yang bagaikan dinding berjajar di segala arah. Danau biru hening memantulkan kelamnya langit. Anak gembala mengiring kawanan ratusan domba dan yak, perlahan melintasi gunung cadas.
 
Pegunungan Pamir boleh jadi adalah tempat paling terpencil di negara ini. Letaknya di ujung terjauh di timur laut, dikelilingi oleh Cina, Tajikistan, dan Pakistan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Atap Dunia di mana awan begitu rendah, nyaris tergapai. Di sini waktu pun seperti berhenti mengalir. Bangsa pengembara tinggal di kemah bundar, berpindah-pindah padang seiring bergantinya musim, mencari mata air dan rumput untuk menghidupi mereka sepanjang tahun. Ini adalah cara hidup yang sama seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam.
Surga –kalau boleh kedamaian di tengah kecamuk perang Afghanistan ini disebut– sungguh tak mudah dijangkau. Ketika di zaman modern ini pesawat terbang sudah mewujudkan fantasi manusia untuk menjelajah bumi dengan kecepatan seribuan kilometer per jam, di pegunungan ini perjalanan masih berarti merayap perlahan di atas punggung kuda atau keledai yang terengah-engah kekurangan oksigen pada ketinggian lebih dari 4000 meter.
Dua puluh kilometer dalam sehari sudah luar biasa jauhnya. Dan itu pun bukannya tanpa bahaya. Saya memegang tali kendali erat-erat. Kuda ini melangkah perlahan-lahan di atas jalan setapak berpasir halus yang lebarnya cuma sekitar 30 sentimeter –hanya cukup untuk dua telapak kaki. Di sebelah kiri adalah tebing cadas tegak lurus yang puncaknya pun tak terlihat sekalipun kita harus mendongak. Di sebelah kanan adalah jurang menganga, seratus meter di bawah ada sungai yang menggelegak. Bulir-bulir pasir bergulir ke arah jurang menemani setiap langkah kaki kuda mendaki tebing curam. Gemerisiknya langsung ditelan oleh gemuruh sungai. Sedikit saja kuda ini salah langkah, maut siap menghadang. Saya hanya bisa menutup mata sementara kaki terayun-ayun di atas jurang menganga. Pasrah.
“Jangan khawatir, kuda selalu bisa memilih jalan yang terbaik,” kata tentara Afghan yang menemani saya, “hewan ini tidak bodoh.”
Betapa ingin saya mempercayainya seratus persen. Ini adalah pengalaman pertama saya berkuda. Di kala saya masih berlatih menjaga keseimbangan, medan yang harus dilalui begitu menyeramkan. Terkadang mendaki tegak lurus, terkadang menukik di bebatuan terjal. Berkali-kali saya nyaris terpelanting.
Tentara Afghan tertawa mengejek, “Lain kali belajar naik kuda dulu baru keliling Afghanistan. Ini adalah teknik yang paling dasar di negara ini.”
Orang Afghan terbiasa hidup di medan yang keras. Perang selama tiga dekade mengisolasi negeri ini dari dunia luar. Kehancuran di mana-mana. Walaupun pertempuran fisik tak pernah mencapai Atap Dunia ini, tetapi Pamir begitu jauh, terpencil dan terlupakan. Tempat ini terpaksa berjalan dalam dimensi waktunya sendiri. Tak ada jalan raya, mobil, listrik, apalagi internet. Tak ada sekolah, semua orang buta huruf. Tak ada rumah sakit dan obat-obatan, banyak ibu meninggal waktu melahirkan dan bocah-bocah tewas karena penyakit sepele macam disentri.
Di hadapan gunung-gunung raksasa ini manusia adalah makhluk kecil yang tak banyak berdaya. Tetapi di sini justru ribuan bangsa penggembala Kirghiz menggantungkan nasib. Berbeda dengan orang Afghanistan kebanyakan, karakter wajah orang Kirghiz lebih mirip orang Mongol. Nenek moyang mereka dari Siberia dan selama ribuan tahun melintasi padang dan gunung mereka berpindah hingga sampai ke ujung Afghanistan ini. Hingga hari berganti tahun, di padang gembala bersama kawanan domba. Tak banyak impian mereka, selain tumbuh besar, menikah, dan punya domba yang banyak. Di sini tak ada dokter dan obat-obatan. Candu menjadi cara terampuh menghilangkan rasa sakit.
 
Candu menjadi cara terampuh menghilangkan rasa sakit. Opium yang dibawa oleh kaum saudagar telah meracuni masyarakat pegunungan ini. Puff…. puff…. puff…. pria tergolek di matras, menghisap nikmatnya candu sepanjang hari. Setiap hembusan, dengan kepulannya yang berbau tajam, membuatnya semakin terbang ke awang-awang. Matanya terpejam dalam kenikmatan. Mungkin opium memang mujarab untuk sejenak melupakan kelengangan dan kemonotonan hidup di kedamaian Atap Dunia.
Saya termenung di hadapan Danau Chaqmaqtin yang membentang dari timur ke barat. Kawanan yak yang
baru datang mendengus keras. Suaranya mirip dengusan babi. Para ibu keluar menyambut dengan timba-timba kecil di tangan. Sore hari adalah waktu untuk memerah susu hewan berbulu tebal ini. Sementara itu, langit mulai mencurahkan butiran salju. Di musim panas sekali pun salju bisa turun. Udara tiba-tiba dingin menusuk tulang. Tak terbayangkan ketika musim dingin menyergap, tempat ini pasti tak tertahankan lagi dinginnya.
“Musim dingin sungguh menjengkelkan,” kata si gembala, “danau raksasa ini beku. Tak ada air untuk minum, sehingga kami harus memanaskan salju dan es. Udara teramat dingin, sepanjang hari kami harus duduk di perapian. Apinya berasal dari kotoran yak, yang harus dikumpulkan sejak musim panas. Hewan-hewan pun tak menghasilkan susu ketika udara terlalu dingin. Mereka lapar, kami lapar. Mereka mati, kami pun ikut mati.”

Adakah surga di negeri Afghan?
“Entahlah. Saya tak pernah melihat surga,” gembala berkata tanpa ekspresi, “mungkin kalau surga berarti kedamaian, Pamir memang boleh disebut surga. Bagaimana pun beratnya hidup di sini, ini adalah rumah kami. Setiap lekuk gunung, setiap helai rumput, setiap anak sungai, begitu dekat di hati. Tak ada tempat lain di dunia yang bisa menggantikan Pamir.”
Angin berhembus. Salju semakin deras. Gunung-gunung itu membisu, hilang ditelan kabut.
| | | :: May 28, 2009 Kabul – End of Journey? | | The last few weeks were very difficult time for me. Once my dad called from Indonesia, “Your mom is going to have an operation. Please pray for her.” It’s very unlikely that my mom gets sick, as my mom is a very active woman, doing physical exercise almost on daily basis. In late few years I have never heard she fell into serious sickness, even for once.
The news was not too good. It turned out to be tumor, cells which grow abnormally. It sounds not so serious, my mom just complained of pain in her abdominal. Operation was conducted.
It’s not a simple tumor. Doctor said it was malignant tumor, euphemism of saying ‘your mom got cancer’. My mom ovary was lifted. The next diagnosis saying that the cancer has spread to her intestine, and they claimed my mom got a Stage-3C cancer.
My days turn dark. I feel guilty, worry, fear, anxiety, … I make dozens of international calls a day to Indonesia to inquire about her.
“Mom, how are you?”
“Everything is alright. Just little bit weak. But I am alright.” Surprisingly, her voice sounds very strong, like she doesn’t feel any pain. She has determined spirit, not to be heard as she was in unbearable pain. She continues, “But I feel sad, when I went to operation, not even one of my beloved family members were next to me. Your dad had to stay in our shop. Your brother was doing final thesis. And you are far away there.”
My parents live by themselves in our house, in a small town in East Java. The medical facility there is not really good. Initially my dad said that the operation could be conducted in our town hospital, but the result might not be good. So my mom had to go to Surabaya, the provincial capital, about 5 hours of journey as the previously good highway was destroyed by mud. She went there alone, met a cousin in Surabaya, and just went to the hospital by her bravery.
“Do you need me to come home? I can accompany you,” I offered.
“No, dear. You have your dream. I know you still have so much of dreams. You want to go to university again, don’t you?”
No…. Nothing is important anymore for me but her health.
“You were crying, weren’t you?” My dad ridicules me, “It’s OK, dear. It’s cancer, everybody can get it, and we have no other way but to face it.” My dad laughs, but I don’t feel much of optimism in her words. The doctor mentions that this stage 3 thing means the cancer has spread, there’s always risk.
I browsed through internet, learning more about ovarian cancer. I read anything from medical journals until blogs of people taking care of parents getting cancer. Some were really grim and ended in tragedy. I never imagine that my mom will suffer all of this.
***
All sons say that their moms are the most beautiful in the world. I think the same. I am always proud of her. She is typical of a small-town or village woman, not highly educated, but has commitment to sacrifice the best for her children’s education and future. She doesn’t like to travel out of town. I remembered the time when she came to Beijing for my graduation, she was terrified in the plane. She liked visiting Beijing, making ‘pilgrimage’ to the Mao mausoleum in a total faith. I even haven’t been there, despite of my 6-year stay in China. Mom also loved the Great Wall, the palace, the Buddha grottoes in Datong. Every single small step was a new inspiring thing for her. But she did not really like the food. The thing I noticed most, my mom never felt totally free. Her mind was always about home, about shop, about my dad and family. She loved Beijing, but preferred to go home earlier if possible. Her heart was bound at our little home in a small town of Lumajang.
Despite of her unwillingness to travel far, I have made her mind to go to China again this time. I have asked around for recommended cancer hospitals. Some friends referred doctors in Singapore, but after considering the cost of bringing mom there, I am sure it won’t be a good choice. Cancer patient should not be stressed. The astronomical bills for sure will make my mom shocked, and it won’t be good for her.
“Don’t worry, Mom. I will pay for your treatment,” I offered.
“No, dear. Save your money for your travel and university. Reach your dreams,” she said again.
“No, Mom. Really, nothing is important anymore.”
I have to ask helps from many friends to talk to my mom, to make her mind. Initially, my mom was so reluctant. The Surabaya doctor said she needed to conduct a set of 6 sessions of chemotherapy. My mom has done the first one. But as far as I know, 6 sessions are the initial set of therapy. If the cancer is not finished, other sessions will have to follow. I have read some patients have to do therapy for 15 years and keep doing it. I am really afraid to imagine that it would happen to my mom. I feel devastated to know that most chemotherapy patients will lose their hair.
Will that happen to my mom? The mom whom I always boast as the most beautiful mom on earth… But for cancer patients, beauty is now placed at the bottom of priority. I just want to see my mom survive, and gets her health back.
“I learn how to give up,” says Mom, “Let it be, Dear.”
“No, Mom. You have to struggle,” I said emotionally, “I will sacrifice anything for you. I leave everything here just for you.”
My mom said she would consider.
***
“Your mom is so strong,” said a close friend in China who made international phone call to talk with my mom, “She is optimistic. Her voice sounds like a freedom fighter. And she is happy that you will accompany her to the hospital in China.”
Gotcha. My mom does miss me. The journey has taken me to all corners of Asia, to different countries, even to warzones and dangerous places. This journey has opened my eyes, seeing different life and cultures. But my mom, she is stuck in a small town there in Java, praying for me every minute, living in worries, suffering psychological stress, and now when she gets sick, she wants me to be next to her.
She never says that directly to me. She always says I have to pursue my dreams and future. But that’s the motherly character of all moms on earth, I bet.
Meanwhile, here in Afghanistan I have bunch of problems in front of my eyes. Starting from visa bureaucracy until some friends who didn’t pay me back the money they borrowed. I have piles of plans of going here and there, of going to study Arabic in Middle East, of doing photo essays and collecting material for my books, and so on. Suddenly, everything turned vain. Initially, it looked very hard to give up all of this. But actually it was not. After all, nothing is important anymore now.
I have begged so many people to help me about the visa. I have made friends to commit to pay back the money, as now my mom only relied on me completely. I have purchased my flight ticket, and I am flying for Hong Kong tomorrow. Life is a roller-coaster, everything may happen without we ever expected. But that’s the meaning of life journey, isn’t it? I am sure that this is the best choice I can take.
All memories of Afghanistan are really difficult to be suddenly erased. The capital is already like my home. The Pajhwok Afghan News office, where I have been staying for two years, is also like my home. The reporters, journalists, translators, and all other staff are like my family. It was very difficult to say ‘bye’ to all of them. This farewell might be forever.
It might be blessing in disguise. I believe that God has prepared everything. Like the Chinese says, men struggle and God decides. Even though my mood now is mostly sad, but there’s a slight of happiness to be able to see my mom again after almost 3 years.
I am returning back to China, to my zero point. Let this blog post ends this chapter of journey. I thank all of you who support my journey financially, physically, spiritually, mentally, whether you are in Afghanistan, Indonesia, China, Central Asia, Pakistan, India, Iran, UAE, all over the world. I know ‘Thank you’ is too bland and far from enough to express this feeling.
I pray for my mom recovery. I am confident with her spirit, she can overcome all of this. I just go with the wind, and let God dictate me where to step.
| |
| | :: My Journey This blog contains my current and previous trips. You can browse the blog categories to read my previous trips (some written in Indonesian language only). And I'd be very happy if you also give comments in my blog.
September 2010
| << < |
|
> >> |
| |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
| 6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
| 13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
| 20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
| 27 |
28 |
29 |
30 |
|
|
|
:: Categories
:: Archives
:: Search
:: Syndicate this blog  | |