:: You are at :: - My Journey -
.:My Journey:.
 
:: Borderlines: Vodka in Islamic Central Asia
PermalinkPermalinkFri, Sep 16, 2011 @04:09 by Avgustin, Categories: My Publication

Resensi buku Garis Batas di Majalah Tempo. Terima kasih untuk Bpk. Johannes Sumardianta untuk resensi ini.

Vodka di Negeri Islam Asia Tengah

Kisah perjalanan yang menguak betapa Islam Asia Tengah simpel tapi misterius. Warisan sekularisasi Uni Soviet.

GARASIMOV, arkeolog Rusia, menemukan kuburan Timur Leng di Registan, Samarkand, pada 1941. Pada penutup peti raja yang bengis itu tertulis “Barang siapa mengutak-atik jasad Amir Timur akan dihancurkan musuh yang lebih beringas.” Seolah wujud dari nujum itu, beberapa jam sesudah kuburan Timur Leng di bongkar, pasukan Hitler menyerbu dan menduduki Uni Soviet.

Di Uzbekistan, Amir Timur adalah kebanggaan. Di Samarkand, kota terbesar kedua Uzbekistan, patungnya duduk anggun di singgasana, menggengam sebilah pedang. Pada masa kegila kegemilangannya di abad ke-14, Samarkand merupakan sentra peradaban Islam, kota di Jalur Sutra.

Agustin Wibowo, jurnalis dari Lumajang, Jawa Timur, yang kini bermukim di Beijing, menuturkan kemegahan Islam di Asia Tengah itu melalui Garis Batas : Perjalanan di Negeri-negeri Asia Tengah. Inilah dokumentasi petualangannya menjelajahi pelbagai negeri pecahan Uni Soviet-Tajikistan, Kirgistan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turmenistan. Di negeri-negeri itu terjadi perkembangan yang berbeda-beda. Tajikistan terkapar dalam kemiskinan. Kirgistan dan Kazakstan bergemilang kemakmuran kapitalisme. Dan Turkmenistan diliputi nostalgia sosialisme utopis.

Tradisi Islam telah dipenggal Uni Soviet. Peradaban Islam meredup, hampir punah. Sholat, puasa, huruf Arab dan azan jauh dari kehidupan kebanyakan muslim Uzbekistan. Ucapan “assalamualaikum” berubah menjadi “halo” dalam bahasa Uzbek. Masjid jadi obyek wisata. Madrasah disulap jadi gudang dan toko. Tempat ziarah dijadikan museum ateisme-ruang pamer dogma tanpa Tuhan. Muslim Uzbekistan akrab dengan vodka.

Agustin melihat, sejak Uzbekistan merdeka, Islam dihidupkan kembali dengan cara dan tujuan berbeda. Presiden Islam Karimov menjadikan Amir Timur simbol untuk melibas gerakan Islam radikal. Padahal Amir Timur, pendiri Dinasti Moghul, orang Mongolia. Masjid terus dikontrol pemerintah. Azan tak boleh dikumandangkan. Isi khotbah jumat disensor. Jenggot lelaki jadi masalah sensitif. Kaum militan ditangkapi. Jika teroris tertangkap, bapaknya juga diciduk. Teroris dianggap produk kesalahan orang tua mendidik anak.

Uzbekistan paling anti soviet. Negeri ini memiliki sejarah dan peradaban kuno Jalan Sutra, masa lalu buat mengukuhkan identitas. Bahasa Persia pernah menjadi Lingua franca. Rudaki, Rumi, dan Ferdowsi menulis syair yang memuja Samarkand dan Bukhara dalam bahasa Persia. Kesusastraan Persia berjaya ketika Umar Khayam mengugubah Rubaiyat, Amir Kusro menulis Gazhal, dan Ferdowsi mengarang epos Shahnama. Tapi kebesaran masa lalu itu kini hanya jadi latar belakang modernitas.

Tajikistan, yang terjepit dan terpencil di daratan Asia, lebih buruk lagi, teronggok di jajaran sepuluh negara termiskin di dunia. Ekonominya berantakan sejak Uni Soviet bubar. Birokrasinya korup dan ruwet. Penggangguran tersebar di sekujur negeri. Banyak orang tak punya tujuan jelas. Kaum lelaki melepas kebosanan dengan menenggak vodka sampai geloyoran. Kriminalitas akibat alkohol, vodka terrorism membuat malah penuh horor.

Umat Islam Syiah sekte Ismaili di Tajikistan tak berhaji. Mereka juga bisa dikatakan tak berpuasa. Mereka beribadah bukan di masjid, melainkan di jemaatkhana, rumah jemaah. Menyediakan tumpangan dan makanan bagi musafir seperti Agustin merupakan ibadah haji mereka. Menolong musafir wajib hukumnya. Konsep tamu, mehman, mengakar kuat di masyarakat yang hidup di pegunungan Pamir ini. Tamu adalah anugerah Tuhan.

Kirgistan dan Kazakstan merupakan bangsa nomad Asia Tengah. Mereka menganut sunni. Tukmenistan negeri bangsa pengembara padang pasir yang diperintah diktator Turkmenbashi. Rakyat dicuci otak dengan bilasan ideologi. Orang hanya boleh tahu sesuatu jika penguasa menganggap perlu. Diktator Turkmenbashi menulis buku panduan jiwa Ruhnama. Konon, dia sudah meminta izin Tuhan siapa yang membaca bukunya tiga kali langsung masuk surga. Turkmenistan memang bukan lagi negeri komunis tapi tetap terisolasi dalam utopianya sendiri.

Kazakstan, mirip Uni Emirat Arab negeri kaya baru : menikmati kemakmuran mendadak berkat minyak dan gas. Sejak merdeka, Kazakstan terus memordenisasi diri. Negera ini paling gandrung pada Uni Soviet. Ada ungkapan kalau mau jadi orang Rusia, belajarlah menjadi Kazak.

Kazakstan merupakan negeri terakhir yang mendapat pengaruh Islam. Kultur nomas yang yang tak terika aturan ketat membuat Islam dijalankan sangat longgar. Hampir tak ada umat Islam yang bisa membaca huruf Arab. Dan kini negeri ini menjadi budak materialisme. Di Tajikistan orang-orang miskin tapi murah hati mengundang Agustin menginap. Di Kazakstan bahkan buat bertegur sapa pun orang tak punya hasrat. Modernitas kemajuan dan kemakmuran berbanding terbalik dengan kedekatan hubungan antar manusia. Kekayaan menjadi sekat relasi manusia.

Di bukunya ini Agustin menunjukkan bahwa ia bukan sekedar explorer, melainkan observer. Ia pernah dua tahun bermukim di Afganistan. Petualangannya sebagai backpacker didukung kecakapan etnografi. Buku ini tak ubahnya kitab Agustin terdahulu, Selimut Debu, tentang Afganistan : ia mampu menyingkap kesuraman sekaligus kemolekan dan keindahan perlbagai negara”Stan” yang dikunjungi

*J.Sumardianta, grur SMA Kolese de Britto – Yogyakarta – Tempo Edisi 28

 
:: National Geographic Traveler: Kilau Warna dalam Selimut Debu
PermalinkPermalinkWed, Jul 27, 2011 @18:07 by Avgustin, Categories: Journey 2005-2006, My Publication, About Afghanistan

Kilau Warna dalam Selimut Debu
Perang puluhan tahun tak mengoyak kemolekan alam apalagi impian, tradisi, dan kehormatan pemegang peradaban kuno ini.

Kata apa yang paling sering dihubungkan dengan nama Afghanistan? Perang? Kemiskinan? Taliban? Teror? Bagi kebanyakan orang, Afghanistan membawa kesan kelabu dan melankolis. Tetapi di negeri yang tak kunjung usai dihajar perang puluhan tahun ini ternyata juga ada impian, tradisi kuno, kebanggaan, dan peradaban. Afghanistan adalah negeri yang terselubung debu. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki, debu langsung menyeruak menembus hidung, rongga mulut, gigi-geligi, dan memenuhi tenggorokan. Bulir-bulir debu menyelubungi seluruh negeri, laksana cadar pekat yang menyembunyikan misteri kecantikannya. Debu bukan sekadar debu. Bagi orang Afghan, debu itulah dari mana mereka berasal, dan ke mana nanti mereka berakhir. Debu adalah sejarah mereka, masa lalu dan kebanggaan, kecintaan dan penghormatan. Dari debu yang tanpa makna itulah kebanggaan Afghanistan bermula.

Kebanggaan peradaban kuno berawal dari gunung-gunung cadas, menyokong perputaran roda sejarah umat manusia. Tanah gersang ini pernah menjadi pusat peradaban Buddhisme, dan masih menyisakan bangunan-bangunan raksasa yang menampilkan keluhuran budaya Islami. Di negeri yang dilanda perang silih berganti ini, kebanggaan dan kehormatan tak boleh dikorbankan sekalipun nyawa menjadi taruhan. Keluhuran budaya Afghan adalah mengorbankan diri demi melindungi tamu. Keramahtamahan adalah jalan hidup di negeri berdebu ini. Sekalipun tidak punya apa-apa, mereka tetap berusaha menyajikan roti bagi musafir malang. Perjalananan mengelilingi negeri ini adalah seperti menyibak selubung demi selubung debu impresi yang membungkus. Perang dan kemiskinan adalah gambaran umum Afghanistan. Tetapi ternyata kehidupan di sini adalah sebuah prosesi penuh warna.

Siapa pun yang datang ke Afghanistan pasti akan terpukau dengan kedahsyatan masjid-masjid kuno Herat, atau mozaik sarat seni di kota suci Mazar-e-Sharif. Pecinta alam akan menganga menyaksikan gunung-gunung salju mencakar langit di Pamir, atau kelamnya danau mukjizat di Bamiyan. Tetapi yang paling penting dari itu semua adalah tatap mata orang Afghan yang begitu tajam menghunus. Karena itulah sumber kedahsyatan warna-warni di bawah selimut debu.

 
:: National Geographic Traveler: Destinasi Mana pun Istimewa
PermalinkPermalinkWed, Jul 27, 2011 @17:07 by Avgustin, Categories: My Publication

Teks: Vega Probo

Terkesima menyimak foto-foto Afghanistan di rubrik Portfolio Majalah National GeographicTraveler edisi kali ini? Kenali lebih dekat sang penulis dan fotografer, Agustinus Wibowo.

Berasal dari keluarga yang nyaris tidak pernah berpelesir, pria yang menguasai belasan bahasa dunia ini justru telah melanglang buana. Hampir semua perjalanan dilakukannya seorang diri atau bersama rekan yang ia jumpai di jalan, “Kalau cocok, jalan bareng. Kalau tidak cocok, tinggal berpisah di jalan.”

Pengalamannya menjelajahi Afghanistan dan negara-negara Asia Tengah ia tuangkan masing-masing dalam buku Selimut Debu (2010) dan Garis Batas (2011). Dalam dua kesempatan bertatap muka dengan pria ramah ini di Jakarta, beberapa waktu lalu, berlanjut obrolan via dunia maya, tersirat betapa besar semangatnya untuk menjelajah—sebesar pembelajaran berharga yang ia refleksikan pada pembaca bukunya.

Kapan dan ke mana pertama kali bepergian jauh?

Pertama kali melakukan perjalanan independen ke Mongolia, tahun 2002. Pada hari pertama dan kedua di negara itu saya dirampok. Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa sebenarnya tantangan dapat dihadapi. Setidaknya saya tidak lagi takut melakukan perjalanan independen, itulah yang kemudian menciptakan konsep traveling bagi saya. Selama tiga minggu di Mongolia, saya menyaksikan banyak kultur yang “hidup” kembali karena adanya turisme. Misalnya, tradisi eagle hunting (berburu dengan elang) yang semakin ramai karena setiap tahun digelar untuk turis asing.

Adakah sesuatu menginspirasi Anda untuk melanglang buana?
Saya mengoleksi banyak perangko dari hampir semua negara dunia. Melihat lukisan di lembar-lembar perangko membuat saya berfantasi tentang negeri-negeri antah berantah.

Lalu, bagaimana ceritanya Anda menjelajahi Afghanistan dan negara-negara di Asia Tengah?
Umumnya saya menghindari tourist spot, karena bagi saya perjalanan adalah proses pembelajaran. Saya belajar tentang kehidupan masyarakat yang sebenarnya, dan itu agak susah ditemukan di tourist spot. Saya lebih suka mengunjungi desa-desa terpencil yang tidak masuk dalam daftar destinasi wisata, atau boleh dibilang off-the-beaten track, karena saya bisa menemukan kehidupan yang sebenarnya, dan mendapatkan pembelajaran perjalanan yang sesungguhnya. Afghanistan, menurut saya, bagaikan kotak harta karun. Setiap saya melangkah, selalu ada kejutan, ada pradoks. Saya terpukau oleh misteri Afghanistan, sampai tinggal di negara itu tiga tahun. Tulisan tentang Afghanistan menjadi buku berjudul Selimut Debu.

Apa yang sesungguhnya ingin Anda bagi pada pembaca?
Saya berharap pembaca bukan sekadar melihat kehidupan di lokasi-lokasi yang saya tulis, tetapi sekaligus bisa mengambil refleksi dari kisah hidup, baik keberhasilan maupun kegagalan dari bangsa-bangsa lain, dan diambil hikmahnya untuk kehidupan kita sendiri di Indonesia. Perjalanan sebenarnya adalah proses refleksi, begitu juga tulisan perjalanan. Saya mempromosikan responsible traveling, karena perjalanan yang dilakukan dengan tidak bertanggung jawab akan menimbulkan dampak negatif, utamanya bagi tempat yang dikunjungi.

Banyak orang yang menulis buku perjalanan, tetapi sedikit buku perjalanan yang mengesankan. Menurut Anda?
Menulis buku perjalanan mungkin tidak semudah orang bayangkan. Bukan sekadar pergi ke suatu tempat atau negara, menulis buku harian, lalu diterbitkan. Buku perjalanan, atau di sini saya memfokuskan pada narasi perjalanan, hendaknya punya benang merah dan alur kuat. Perjalanan adalah proses pembelajaran, proses pendewasaan diri, dan proses mencari sesuatu. Untuk perjalanan yang saya lakukan di Afghanistan, misalnya, saya mengambil alur tentang paradoks kebanggaan penduduk di negeri yang hancur-lebur oleh perang. Untuk perjalanan Asia Tengah, saya terkesan oleh bagaimana garis batas negara membelah negeri-negeri di sana—Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, lalu mereka saling bertikai demi garis batas dan konsep ciptaan penjajah. Maka plot yang saya angkat dalam buku Garis Batas adalah tentang garis batas, bukan hanya fisik tetapi juga mental, yang memisahkan manusia.

Berpengalaman melanglang buana, bagaimana Anda memandang pariwisata di Tanah Air?
Kita punya negeri yang kaya, yang diminati pengunjung dari mancanegara, dan tentunya kita harus berbangga akan hal itu. Tetapi di sisi lain, kita harus ingat turisme adalah dua sisi mata uang, di satu sisi sektor pariwisata yang maju mendatangkan
banyak turis dan pemasukan, tetapi di sisi lain banyak “racun” pariwisata yang merusak kebudayaan masyarakat setempat. Saya sendiri paling berkesan saat berkunjung ke Danau Toba. Lucunya, ada warga lokal yang nggak percaya saya orang Indonesia, dan ia terus bercakap dalam bahasa Inggris.

Destinasi manakah yang masih membuat Anda penasaran?
Penasaran? Rasanya saya sekarang sudah tidak terlalu penasaran lagi akan destinasi. Dulu saya ingin sekali ke negara-negara tertutup seperti Bhutan atau Korea Utara, juga ke negara-negara yang tidak eksis, seperti Nagorno Karabakh, Abkhazia, atau
Transdniester. Tetapi sekarang, menurut saya destinasi itu bukan segala-galanya. Perjalanan pada hakikatnya bukan lagi mencari eksotisme, tetapi proses untuk belajar, dan kita sebenarnya bisa belajar di mana saja. Salah satu filosofi saya dalam perjalanan adalah: it’s not about the destination, it’s about the journey. Jadi destinasi mana pun adalah istimewa, bahkan kampung halaman sendiri yang sudah begitu Anda kenal.

 
:: Republika: Hidup adalah Perjalanan
PermalinkPermalinkFri, Jul 08, 2011 @14:07 by Avgustin, Categories: My Publication

http://koran.republika.co.id/koran/37/138396/Hidup_adalah_Perjalanan

Hidup adalah Perjalanan

Agustinus Wibowo
Backpacker Penulis Sastra Perjalanan

Agustinus Wibowo berharap akan semakin banyak orang yang mau melakukan perjalanan dan meresapinya sebagai sebuah kontemplasi. Bagi pria yang lahir dan besar di Lumajang, Jawa Timur ini, melakukan perjalanan dan pengamatan adalah pembelajaran hidup yang luar biasa.
Ia menelusuri negara-negara di Asia Tengah dengan cara yang tak lazim ditempuh turis. Perjalanan ke negara-negara berakhiran stan dilakukannya de ngan segala modal transportasi, mulai dari kendaraan umum biasa, menumpang truk, hingga naik keledai. Berpaspor garuda hijau, namun bermata sipit, Agustinus fasih berbahasa Tajik yang diperolehnya saat tinggal di Afghanistan selama tiga tahun. Ditambah, sedikit berbahasa Uzbek, Kirgiz, dan Rusia yang dipelajarinya dari warga setempat. Persentuhannya dengan masyarakat dan kearifan lokal diakui membuatnya makin cinta tanah air.
Berikut petikan wawancara Agustinus Wibowo dengan wartawan Republika Wulan Tunjung Palupi.

Boleh ceritakan awal petualangan Anda saat memutuskan melakukan perjalanan dan apa yang mendorong Anda menjadi seorang petualang?
Juli 2005, saya lulus kuliah, lalu ingin melakukan perjalanan keliling dunia demi menimba ilmu menjadi jurnalis. Kebetulan, saya terinspirasi menjadi jurnalis setelah mengunjungi Aceh pada Januari 2005 pascatsunami. Saat itu, saya melihat bagaimana perjuangan para korban bencana.
Seketika haluan hidup saya berubah, dari semula insinyur komputer saya ingin menjadi fotografer-penulis-pengelana yang bisa berbagi kisah hidup umat manusia dari berbagai sudut dunia yang sering kali luput dari perhatian kita.

Apa maksud dan tujuan Anda dengan menjadi eksplorer-observer-backpacker? Apa yang Anda cari dengan mengunjungi dunia luar dengan cara yang ‘tidak nyaman’?
Saya sebenarnya tidak pernah melabeli diri sebagai eksplorer atau observer. Sedangkan, backpacking sendiri sebenarnya cuma cara untuk melakukan perjalanan, yaitu perjalanan dengan budget terbatas dan dilakukan dengan independen. Tujuannya, untuk belajar dari kehidupan, yakni mengenal berbagai budaya dan kehidupan yang berbeda. Lalu, menarik refleksi dari keberhasilan maupun kegagalan orang-orang di berbagai sudut dunia.

Dari beberapa negara berakhiran ‘stan’ yang pernah Anda singgahi, mana yang paling berkesan? Mengapa?
Afghanistan. Kebetulan saya tinggal di negara ini selama tiga tahun sehingga kesannya sangat mendalam. Saya sudah menjelajahi banyak sudut Afghanistan dan hidup bersama berbagai kelompok etnis di sana. Di antara negara-negara pecahan Uni Soviet yang berakhiran ‘stan’, kesan mendalam ada di Uzbekistan karena saya tinggal di sana cukup lama dan cukup bisa berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam setiap cerita, Anda selalu berhasil menghadirkan deskripsi lanskap dan interaksi dengan penduduk sekitar secara detail, bagaimana caranya?
Alat bantu saya berupa kamera yang merekam foto maupun video, kemudian alat perekam untuk merekam percakapan (tidak semua) serta suara-suara yang saya dengar selama di jalan (suara mobil, suara burung, suara angin, dll). Ini adalah detail yang penting dalam catatan perjalanan. Tetapi tetap, alat bantu yang paling penting adalah yang paling tradisional, yaitu buku catatan. Setiap di jalan saya akan mencatat ke dalam notes semua detail yang tidak mungkin direkam oleh alat bantu lain, misalnya perasaan, ekspresi orang, atau data-data penting. Tetapi, kunci paling penting dalam merekam detail adalah buka mata, buka telinga, dan buka hati.

Anda selalu mengiringi cerita perjalanan Anda dengan referensi budaya atau peradaban bangsa setempat. Misalnya, saat menulis mengenai Tajikistan, Anda juga bercerita soal sejarah Dinasti Samani dan pengaruhnya seusai Soviet runtuh, tokoh-tokoh seperti Ferdowsi, Ibnu Sina. Apakah Anda selalu belajar sejarah suatu negara sebelum mengunjunginya?
Belajar sejarah itu penting karena sejarah itu adalah latar belakang dari kultur supaya kita bisa mengerti mengapa masyarakat ini berpikir atau berperilaku seperti ini. Saya biasanya membaca selama di jalan dan berinteraksi dengan penduduk setempat untuk menambah wawasan.

Bisa ceritakan contohnya?
Misalnya, selama di Tajikistan, saya ngobrol dengan warga di sana, siapa itu Samani dan seberapa besar perasaan mereka terhadap Samani. Lalu, fakta dari interaksi dengan penduduk ini masih harus di-crosscheck dengan catatan sejarah yang sudah ada, baik dari sudut pandang Tajikistan maupun dari negara lain. Alasannya, karena sejarah juga bersifat relatif. Saya sendiri selalu membaca buku selama di jalan, umumnya nonfiksi ataupun fiksi yang berhubungan dengan negara yang dikunjungi. Kebanyakan buku yang saya baca adalah jenis travel writing, jurnalistik, atau sejarah.

Punya rencana pergi ke mana lagi? Atau ada obsesi negara/lokasi yang harus dijelajahi?
Ingin ke Timur Tengah, belajar bahasa Arab dan menjadi jurnalis di negara-negara di kawasan itu. Kalau obsesi sih nggak ada. Buat saya, perjalanan itu bukan soal lokasi, melainkan lebih soal pengamatan. Kita bisa melakukan perjalanan di mana saja, asalkan tetap dengan hati yang terbuka dan selalu mengobservasi.

Dua buku, Selimut Debu dan Garis Batas, Anda dedikasikan untuk siapa? Mengapa?
Selimut Debu untuk orang Afghan, yang membuat saya sadar tentang pentingnya kebanggaan dan kecintaan terhadap tanah air. Selama saya berkeliling di negeri mereka memang sangat berat untuk dijalani, tetapi selalu indah dan penuh kejutan.
Garis Batas untuk mama saya yang meninggal pada 2009 dalam penantiannya terhadap buku ini. Selama mama terbaring di rumah sakit, saya juga menemaninya dengan membacakan kisah-kisah dari buku ini ataupun tulisan perjalanan saya yang lain. Dan, mama sangat menikmatinya. Mama juga adalah orang yang selalu mendukung saya dalam perjalanan dan diam-diam menangis karena kekhawatirannya. Tanpa beliau, mustahil semua perjalanan saya akan terwujud.

Berniat memfilmkan kisah perjalanan Anda?
Kalau ada kesempatan, mungkin ada juga baiknya, untuk menginspirasi orang melakukan perjalanan yang kontemplatif. Bukan cuma sekadar ke tempat-tempat yang jauh atau eksotis, melainkan belajar dan merefleksikan.

Apa Anda merasa perjalanan-perjalanan itu mengubah Anda dalam banyak hal?
Iya, sangat. Perjalanan itu mengubah cara pandang saya terhadap hidup, terhadap arti identitas dan kebanggaan, dan membuat saya belajar untuk menjadi manusia.

Apa hal yang Anda paling benci dalam sebuah perjalanan?
Bagaimana kita bisa membenci perjalanan, kalau perjalanan itu adalah hidup kita?

Sampai kapan Anda ingin berpetualang?
Saya tidak tahu apakah yang saya lakukan ini adalah sebuah petualangan karena, menurut saya, ini adalah perjalanan. Perjalanan punya arti yang sangat luas. Perjalanan bukan saja perpindahan fisik, melainkan juga perubahan menjadi manusia yang lebih baik. Hidup itu sendiri adalah perjalanan. Jadi, saya tetap melakukan perjalanan sampai akhir hayat. ed: joko sadewo

————————–
Berawal dari Filateli

Berawal saat sang ayah memperkenalkan filateli sejak kecil, Agustinus memandang hobi itu adalah caranya memandang dunia. Ia pun berangan mengunjungi negara-negara yang dulunya hanya dilihat melalui perangko. Lahir dan besar di kota kecil, sempat ia berpikir ini hanyalah mimpi yang jauh dari jangkauan. Saat berkesempatan menimba ilmu di Beijing, ia bertemu dengan mahasiswa asal Jepang yang berkeliling dunia dengan modal paspasan.

Ia mengaku, ingin melihat perjalanan sebagai sebuah perjalanan batin yang menguji mental, fisik, kepercayaan diri, dan bahkan menantang harga diri. Backpacker tidak hanya dilihat sebagai kisah perjalan kere berbekal ransel lusuh dengan rute semrawut. Seorang backpacker harus membekali diri dengan keingintahuan yang besar, independensi, dan keberanian. Termasuk keberanian untuk mempertanggungjawabkan pilihannya, misalnya pilihan untuk mengunjungi tempat-tempat yang tidak biasa atau kadang berbahaya. Dua buah buku yang ditulisnya, Selimut Debu dan Garis Batas, sebagian telah ditulis dalam sebuah blog miliknya sejak 2006.

 
:: Travelist : Agustinus Wibowo - Seorang Musafir
PermalinkPermalinkMon, Jun 27, 2011 @11:06 by Avgustin, Categories: My Publication

Majalah Travelist Edisi Perdana
http://the-travelist.com/index.php?option=com_content&view=article&id=51:first-one&catid=34:slideshow-items&Itemid=44

Agustinus Wibowo – Seorang Musafir

Gus Weng adalah panggilan akrab seorang Agustinus Wibowo. Ia adalah pelajar IT saat pertama kali mencoba untuk menjelajahi dunia. Destinasi yang ia pilih pun ‘tidak biasa’, sebenarnya apa sih yang membuat ia memilih destinasi tersebut?

Dalam buku Selimut Debu, Gus Weng menyebut diri adalah backpacker, tetapi editor anda menyebut anda explorer, bukan traveler. Sebenernya Gus Weng itu tipe traveler seperti apa?
Sebenarnya label-label itu tidak penting. Saya tidak menyebut diri saya sebagai backpacker, tetapi kebetulan pada saat menulis perjalanan itu, saya melakukan perjalanan dengan cara backpacking atau traveling secara independen dengan anggaran minim, jadi saya adalah backpacker. Tetapi bukan berarti ada tanda sama dengan antara Agustinus Wibowo dengan backpacker. Demikian juga turis, traveler, explorer, observer, dan sebagainya, buat saya itu adalah label-label saja. Ada backpacker yang menolak dirinya disebut turis dan keukeuh minta disebut traveler. Buat saya lucu juga, karena sebenarnya pada hakikatnya backpacker itu juga turis –mencari hal-hal yang “eksotik” yang berbeda dari kehidupannya demi kesenangannya sendiri.

Kalau memang dipaksa harus menyebut, mungkin saya lebih suka disebut sebagai musafir. Ini adalah kata yang punya artian luas, karena musafir bukan hanya melakukan perjalanan perpindahan tempat, tetapi juga perpindahan dalam kehidupan. Kita semua adalah musafir dalam kehidupan kita masing-masing, musafir yang selalu belajar dari kehidupan.

Gus Weng kan anak IT, kok malah kesasar di dunia travel, bisa ceritain sedikit?
Saya dulunya kuliah IT di Beijing, tapi sebelum lulus saya kebetulan sempat ke Aceh untuk jadi sukarelawan bersama beberapa kawan jurnalis. Di sana saya kemudian tergerak untuk menjadi jurnalis, karena saya melihat jurnalis adalah pekerjaan yang mulia, jadi saya ingin berubah haluan dari insinyur komputer menjadi jurnalis. Tentu ini adalah proses yang berat untuk berpindah dari zona nyaman saya, menjajal kehidupan yang sama sekali baru, apalagi saya tidak pernah punya latarbelakang pendidikan di bidang ini. Jadi setelah lulus saya memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling dunia seorang diri untuk belajar fotografi dan jurnalisme selama di jalan, dan memimpikan bisa jadi jurnalis di Afghanistan –yang saat ini sudah terwujud.


Interview 24|25 | Travelist | Juni-Juli 2011

Perjalanan Gus Weng pertama kali kapan dan kemana?
Tahun 2002, ke Mongolia, waktu masih kuliah di Beijing. Perjalanannya Cuma 3 minggu saja, berkemah keliling Mongolia dari utara ke selatan. Itu yang kemudian membuat saya cinta traveling ala backpacker.

Sampai sekarang jumlah total perjalanan udah berapa, dan kemana?
Wah, saya tidak pernah menghitung jumlah perjalanan, karena menurut saya perjalanan itu adalah “uncountable noun” atau kata benda yang tidak bisa dihitung. Bagaimana kita bisa menghitung perjalanan? Saya pun tidak lagi menghitung jumlah negara atau jumlah visa di paspor, karena menurut saya itu absurd. Bagi saya perjalanan adalah proses pembelajaran, yang membedakan adalah sedalam apa kita belajar, sedalam apa kita melepas ego, jadi bukan dihitung dengan jumlah.

Kenapa malah milih solo traveling? Padahal traveler lain biasa travel in pair?
Karena dengan solo traveling kita mendapat lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk/daerah yang kita kunjungi, atau dengan kata lain lebih banyak kesempatan belajar. Kita juga lebih harus bertanggung jawab kepada diri sendiri, dan ini penting untuk pembelajaran pembentukan karakter juga.

Oiya, Gus Weng terkenal akan perjalanan ke Afgan dan Asia Tengah. Tetapi kenapa bukan memilih tuk keliling Indonesia saja? Padahal kalo cari thrill kan ada perang suku di Papua, ato hutan belantara di Kalimanatan?
Kebetulan karena memang saya dulu mahasiswa di Beijing, dan lulusnya dengan uang ala kadarnya saya cuma bisa melakukan perjalanan dengan jalan darat, dan Asia Tengah serta Afghanistan itu semua adalah negara tetangga China. Tentu saya ingin keliling Indonesia. Tetapi pada saat ini, mengingat usia yang masih muda, saya ingin melakukan perjalanan di mana saya bisa belajar lebih banyak, misalnya perjalanan di Afghanistan yang sangat berat itu, atau pada usia muda kita juga lebih cepat belajar bahasa.

Saat ini saya masih ingin belajar lebih banyak bahasa baru dan budaya yang sama sekali asing. Bagaimana pun juga indonesia adalah “rumah” saya, tentu saya akan kembali untuk “menemukan” rumah saya, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Gus Weng kan udah keliling Asia, juga udah nerbitin dua buku, berarti udah pengalaman kan soal travel writing. Menurut Gus Weng sendiri, tulisan travel yang baik tuh gimana?
Travel writing itu adalah potret dari serpihan kehidupan yang bisa memberi gambaran yang lebih luas kepada pembaca tentang kehidupan di satu lokasi atau kehidupan kelompok masyarakat. Travel writer tidak melakukan survei dengan ribuan responden untuk menguatkan teori, travel writer hanya menulis pengalaman dan perenungannya. Tetapi bagaimana dari pengalaman yang personal itu bisa memberi gambaran yang lebih luas? Di sini diperlukan kejelian observasi sang penulis, serta kerendah-hatiannya dalam menerima realita yang ada yang seringkali bertentangan dengan konsep yang ada di benaknya.

Selain itu, travel writing bersifat timeless, tetap relevan dibaca kapan pun. Travel writing bukan sekedar promosi tempat wisata, tetapi pengalaman personal sang penulis, di mana pembaca juga bisa meraba bagaimana karakter sang penulis lewat tulisannya. Tetapi di sini, penulis adalah pencerita, bukan tokoh utama atau lakon tulisannya. Fokus tulisan tetap berada di lokasi/masyarakat yang ia ceritakan.

Kalo gitu contohnya penulis travel favorit Gus Weng?
V.S. Naipaul, Jasper Becker, Ryzard Kapuscinski,Paul Theroux, dan sebagainya.

Dari foto-foto Gus Weng pas menjelajah Asia kelihatan banget kalo foto potretnya bisa dapet ekspresi manusia yang sangat natural, gimana si caranya biar bisa kayak gitu?
Kalau potret yang manusia yang bisa bercerita, dibutuhkan pendekatan yang sangat erat dengan subjek foto. Di sini dibutuhkan komunikasi, sehingga sang subjek bukan hanya sekedar orang yang dijepret oleh fotografer, tetapi orang yang dikenal secara personal. Di foto-foto potret itu saya mengobrol dulu dengan subjeknya, membina kepercayaan, mengetahui sedikit banyak kisah hidupnya, dan mengambil fotonya dalam keadaan yang paling natural. Karena ketika si fotografer sudah diterima subjek foto, foto yang dihasilkan seolah-olah si fotografer seperti sudah tidak ada, dan fotonya bisa jadi natural. Selain itu, komunikasi juga penting untuk mengenal si subjek foto luar dalam, sehingga bisa lebih jelas digambarkan ekspresinya.

Kalo gitu fotografer acuan Gus Weng siapa?
Saya tidak terlalu punya acuan. Bagi saya fotografi itu feeling, ungkapan seni juga. Saya hanya memotret dengan perasaan sendiri saja. Saya tidak terlalu punya acuan. Bagi saya fotografi itu feeling, ungkapan seni juga. Saya hanya memotret dengan perasaan sendiri saja.

Terakhir ya Gus Weng. Menurut Gus Weng, traveling yg beretika itu seperti apa?
Traveling di mana si pejalan sudah meluruhkan egonya, ia bukan lagi orang yang “mau mengubah dunia” tetapi “orang yang belajar dari dunia”. Kalau orang masih ingin mengubah dunia, ia akan menuntut ini itu, atau membuat destinasi wisata yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya supaya nyaman. Contohnya saja, di gunung-gunung di Nepal sudah tersedia hotel yang menyediakan hot shower, pizza, spaghetti, dan sebagainya, ini karena tuntutan kebutuhan para turis yang akhirnya jadi mengubah “dunia”. Kita juga lihat berbagai “racun turisme” yang ada di tempat-tempat wisata dunia di mana pun. Kalau si pelaku perjalanan bisa mengorbankan egonya, meluruhkan dirinya, ia akan berusaha meminimalkan pengaruh (negatif) keberadaannya terhadap daerah/lingkungan yang dikunjungi.

 
:: My Journey
This blog contains my current and previous trips. You can browse the blog categories to read my previous trips (some written in Indonesian language only). And I'd be very happy if you also give comments in my blog.


November 2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
 << <   > >>
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

:: Categories

:: Archives

:: Search
 
Web avgustin.net




:: Syndicate this blog
 


.:Disclaimer Notes:.
You may not distribute any of the material in this sites without permission from Avgustin.Net
This blog is powered by
b2evolution
Agustinus Wibowo photography
© 2005 - 2008
eXTReMe Tracker