:: You are at :: - My Journey -
.:My Journey:.
 
:: My First Book, "BLANKET OF DUST --- SELIMUT DEBU" is Launched in Indonesia
PermalinkPermalinkWed, Jan 06, 2010 @10:01 by Avgustin, Categories: My Publication

Finally…. after long time of editing and rewriting, and editing again, and rewriting again, (I already have lost count about the process), my first travel narrative book will be launched by Gramedia Pustaka Utama, one of the leading publishers in Indonesia, by January 12, 2010. This book is about Afghanistan, based of my travel around the country by hitchhiking in 2006, but the contents are enriched with my contemplation after my two and half year stay in Afghanistan as a journalist. The first edition is in Indonesian, but hopefully an English version will come out soon as well.

——————————————–


http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=KAHI4419&kat=4
Selimut Debu - Agustinus Wibowo
468 halaman Rp69.000,-
Dilengkapi foto-foto berwarna.
No GM 40101100002
ISBN: 978-979-22-5285-9

Pada tahun 2006, Agustinus mulai melintasi perbatasan antar negara menuju Afghanistan, dan selama dua tahun ia menetap di Kabul sebagai fotografer jurnalis—catatannya di buku ini adalah hasil perenungan yang memakan waktu tak singkat.

Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan “Tanah Bangsa Afghan” dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan—sampai akhirnya ditemukan kembali.

“As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided.” -The Jakarta Post

“Agustinus tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.” - Kompas

 
:: Aplaus: Single Fighters - True Story Unveiled
PermalinkPermalinkThu, Dec 03, 2009 @07:12 by Avgustin, Categories: My Publication

http://www.aplausthelifestyle.com/result_detail.php?id=1245&index=36

Single Fighters: The True Story Unveiled
Teks oleh Linda Yusmiyani & Judika B.M
Foto Bobby Wongso Wennars, Istimewa & dari berbagai sumber

Menjadi single fighter bukan berarti harus merasa sendiri. Justru merupakan proses perjuangan untuk melatih melupakan ego, percaya diri dan mensyukuri kemandirian yang telah dianugerahkan.

BANYAK hal yang harus dilewati untuk menjadi sukses karena kemandirian. Mulai dari jalan berbatu, berliku, bertemu dengan orang yang salah, merasakan jatuh, sebelum akhirnya menggenggam sukses sejati seperti mereka ini.

1.Go Far And Experience The World
Agustinus Wibowo (Backpacker)

Masih muda, tapi pengalaman backpacking-nya segudang. Apalagi kegigihan dan kemandiriannya dalam menelusuri hampir seluruh negara di Asia.

Awal petualangan backpaking kamu gimana sih?
Tahun 2001 saya terinspirasi seorang teman perempuan dari Jepang yang melakukan perjalanan sendiri mengelilingi negara Asia Tenggara, tanpa menguasai bahasa selain bahasa Jepang. Dari petualangannya, setahun kemudian saya melakukan backpacking pertama ke Mongolia, berkemah mengelilingi negeri itu selama tiga bulan.

Perjalanan backpacking kamu sudah ke mana aja?
Tahun 2005, ketika baru lulus kuliah di Beijing, saya bercita-cita melakukan perjalanan panjang dari Beijing ke Afrika Selatan, melalui jalan darat. Perjalanan saya bertahan selama 1 tahun 7 bulan, melintasi pegunungan Tibet, Nepal, lalu ke gurun pasir India, pegunungan di Pakistan Utara. Lalu bekerja sebagai sukarelawan gempa Kashmir, ke pedalaman Pakistan, berkeliling Afghanistan dengan hitchhiking, lalu ke Iran, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Sekarang di Mongolia lagi. Merencanakan negara yang akan dikunjungi selanjutnya.

Hal-hal yang pernah menghambat perjalanan kamu ada nggak?
Setelah hampir berkeliling negara Asia Timur, saya pernah kehabisan dana sehingga kembali ke Afghanistan, bekerja sebagai jurnalis selama sekitar dua tahun. Ketika bersiap melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah, ibu saya jatuh sakit mengidap kanker ganas. Sehingga saya pulang dan menerbangkan beliau berobat selama dua bulan di Shenzhen. Setelah sembuh, saya melanjutkan perjalanan. Kini saya di pegunungan Mongolia Barat dan akan berkeliling selama 3 bulan. Pernah juga saya terhambat karena visa/izin tinggal tak bisa diperpanjang, sementara saya masih ingin tinggal lebih lama. Tetapi saya percaya bahwa setiap hambatan ada hikmahnya.

Wow… Benar-benar petualangan yang mendebarkan ya! Trus, kalau kamu disebut the real single fighter setuju?
Saya melakukan perjalanan sendiri tanpa travel companion, agar lebih banyak belajar, terlebih berinteraksi dengan penduduk lokal. Misalnya ketika bepergian ke pegunungan Pamir di Afghanistan Utara. Tempat ini sangat terpencil. Harus melakukan pendakian gunung terjal selama 5 hari berkuda, melintasi jurang dan sungai deras. Sementara saya hanya berbekal satu tas ransel kecil dan tak bisa berkuda. Untung, tiba-tiba rombongan tentara perbatasan Afghanistan yang hendak mendaki gunung tersebut menawarkan bantuan menjadi rekan seperjalanan hingga mencapai puncak padang rumput pada ketinggian 4.500 meter—di mana kaum nomaden Kirghiz menggembalakan ternak. Perjalanan ini menakutkan, karena jalanan hanya selebar 30 cm di tepi jurang terjal, sedangkan saya harus berlatih keseimbangan di atas kuda yang mendaki bukit terjal, terkadang nyaris tegak lurus. Salah sedikit berarti maut. Lewat bantuan mereka, saya bisa mencapai tempat tersebut. Bukan berarti saya selalu single fighter, karena selalu ada yang membantu.

Arti single fighter buat seorang Agustinus?

Menjadi single fighter adalah melatih untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Tidak semua dapat kita atasi sendiri. Menjadi single fighter justru membuat saya merasa saya tak pernah sendiri. Mencapai destinasi sudah bukan yang terpenting. Perjuangan perjalanan itulah yang memberi makna. Saya belajar melupakan ego, lebih fleksibel, dan percaya bahwa semua ada yang mengatur.


2.Success: The Fruit of Hardwork
Joy Destiny Tobing (Soloist)

Betapa gemilangnya dara satu ini. Bermodalkan nyali besar, percaya diri serta bakat yang tak terhingga, Joy sudah menunjukkan segenap potensinya di jalur solo. Inilah sebagian rentetan cerita kemandirian dara yang sudah piawai nyanyi sebelum dinobatkan sebagai jawara Indonesian Idol I.

Seperti apa perjalanan seorang Joy sekarang?

Sekarang, untuk menjadi penyanyi mungkin nggak sesulit dulu. Ini tidak bagi saya, karena menyanyi bukan hal baru lagi, karena sedari usia lima tahun, saya sudah menjajaki dunia tarik suara. Sudah 24 tahun saya di sini. Waktu TK saya berbeda dengan teman-teman karena komposisi suara dan keberanian yang saya miliki. Bakat menyanyi ini selain karena keturunan, juga karena selalu diasah. Semua yang ada sekarang tidak mudah diraih lho. Sebab waktu yang saya pakai untuk mencapainya juga nggak sedikit.

Poin penting yang kamu andalkan untuk tetap bisa survive?
Bagian tersulit untuk tetap survive adalah ketika mengatur diri sendiri. Selain itu, kerendahan hati bagi saya juga penting. Apalagi sekarang banyak kesempatan untuk menjadi penyanyi. Jadi sebenarnya nggak ada yang perlu ‘terlalu’ dibanggakan ketika menerima anugerah sebagai penyanyi.

Lantas seberapa penting ikatan manajemen terhadap eksistensi penyanyi?
Keduanya punya nilai positif dan negatif. Positif karena keduanya bisa saling menghargai, transparan dan bertanggung jawab. Namun nggak bisa dipungkiri beberapa aturan manajemen cukup memberatkan penyanyi demi mengejar rating yang mempengaruhi manajemen.

Eksistensi dan percaya diri kamu bergantung pada…
Tuhan. Selain itu, keluarga dan teman-teman dekat juga menjadi sokongan untuk tetap eksis. Hm… sebenarnya bergantung dengan sesama manusia itu perlu, tapi jangan sampai kecenderungan, karena ini bisa membuat terlena dan kita menjadi kurang mandiri.

Single fighter adalah…
Sebuah anugerah. Semua orang diberi kesempatan untuk memilih. Hanya diri sendiri yang bisa menentukan, kemandirian itu mendingan diterapkan daripada disimpan saja. Pemain single fighter umumnya tau betul kekurangan dan kelebihannya dan akan mengkoreksi kesalahan untuk perbaikan ke depan. Sikap ini nggak dimiliki semua orang. Itu sebabnya menjadi single fighter adalah sebuah anugerah.

 
:: LION-MAG: Heaven in Afghanistan
PermalinkPermalinkSat, Jul 11, 2009 @23:07 by Avgustin, Categories: My Publication

SURGA DI BUMI AFGHAN
Teks dan foto-foto: Agustinus Wibowo

page 1page 2

Adakah surga di Afghanistan? Lupakan gurun tandus dan desingan badai pasir. Lupakan perang, mayat bergelimpangan, ledakan bom. Di sini yang ada hanya kesunyian dan kedamaian di padang rumput hijau membentang, dikelilingi gunung bertudung salju yang bagaikan dinding berjajar di segala arah. Danau biru hening memantulkan kelamnya langit. Anak gembala mengiring kawanan ratusan domba dan yak, perlahan melintasi gunung cadas.

page 3page 4

Pegunungan Pamir boleh jadi adalah tempat paling terpencil di negara ini. Letaknya di ujung terjauh di timur laut, dikelilingi oleh Cina, Tajikistan, dan Pakistan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Atap Dunia di mana awan begitu rendah, nyaris tergapai. Di sini waktu pun seperti berhenti mengalir. Bangsa pengembara tinggal di kemah bundar, berpindah-pindah padang seiring bergantinya musim, mencari mata air dan rumput untuk menghidupi mereka sepanjang tahun. Ini adalah cara hidup yang sama seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam.

Surga –kalau boleh kedamaian di tengah kecamuk perang Afghanistan ini disebut– sungguh tak mudah dijangkau. Ketika di zaman modern ini pesawat terbang sudah mewujudkan fantasi manusia untuk menjelajah bumi dengan kecepatan seribuan kilometer per jam, di pegunungan ini perjalanan masih berarti merayap perlahan di atas punggung kuda atau keledai yang terengah-engah kekurangan oksigen pada ketinggian lebih dari 4000 meter.

Dua puluh kilometer dalam sehari sudah luar biasa jauhnya. Dan itu pun bukannya tanpa bahaya. Saya memegang tali kendali erat-erat. Kuda ini melangkah perlahan-lahan di atas jalan setapak berpasir halus yang lebarnya cuma sekitar 30 sentimeter –hanya cukup untuk dua telapak kaki. Di sebelah kiri adalah tebing cadas tegak lurus yang puncaknya pun tak terlihat sekalipun kita harus mendongak. Di sebelah kanan adalah jurang menganga, seratus meter di bawah ada sungai yang menggelegak. Bulir-bulir pasir bergulir ke arah jurang menemani setiap langkah kaki kuda mendaki tebing curam. Gemerisiknya langsung ditelan oleh gemuruh sungai. Sedikit saja kuda ini salah langkah, maut siap menghadang. Saya hanya bisa menutup mata sementara kaki terayun-ayun di atas jurang menganga. Pasrah.

“Jangan khawatir, kuda selalu bisa memilih jalan yang terbaik,” kata tentara Afghan yang menemani saya, “hewan ini tidak bodoh.”

Betapa ingin saya mempercayainya seratus persen. Ini adalah pengalaman pertama saya berkuda. Di kala saya masih berlatih menjaga keseimbangan, medan yang harus dilalui begitu menyeramkan. Terkadang mendaki tegak lurus, terkadang menukik di bebatuan terjal. Berkali-kali saya nyaris terpelanting.
Tentara Afghan tertawa mengejek, “Lain kali belajar naik kuda dulu baru keliling Afghanistan. Ini adalah teknik yang paling dasar di negara ini.”

Orang Afghan terbiasa hidup di medan yang keras. Perang selama tiga dekade mengisolasi negeri ini dari dunia luar. Kehancuran di mana-mana. Walaupun pertempuran fisik tak pernah mencapai Atap Dunia ini, tetapi Pamir begitu jauh, terpencil dan terlupakan. Tempat ini terpaksa berjalan dalam dimensi waktunya sendiri. Tak ada jalan raya, mobil, listrik, apalagi internet. Tak ada sekolah, semua orang buta huruf. Tak ada rumah sakit dan obat-obatan, banyak ibu meninggal waktu melahirkan dan bocah-bocah tewas karena penyakit sepele macam disentri.

Di hadapan gunung-gunung raksasa ini manusia adalah makhluk kecil yang tak banyak berdaya. Tetapi di sini justru ribuan bangsa penggembala Kirghiz menggantungkan nasib. Berbeda dengan orang Afghanistan kebanyakan, karakter wajah orang Kirghiz lebih mirip orang Mongol. Nenek moyang mereka dari Siberia dan selama ribuan tahun melintasi padang dan gunung mereka berpindah hingga sampai ke ujung Afghanistan ini. Hingga hari berganti tahun, di padang gembala bersama kawanan domba. Tak banyak impian mereka, selain tumbuh besar, menikah, dan punya domba yang banyak. Di sini tak ada dokter dan obat-obatan. Candu menjadi cara terampuh menghilangkan rasa sakit.

page 5page 6

Candu menjadi cara terampuh menghilangkan rasa sakit. Opium yang dibawa oleh kaum saudagar telah meracuni masyarakat pegunungan ini. Puff…. puff…. puff…. pria tergolek di matras, menghisap nikmatnya candu sepanjang hari. Setiap hembusan, dengan kepulannya yang berbau tajam, membuatnya semakin terbang ke awang-awang. Matanya terpejam dalam kenikmatan. Mungkin opium memang mujarab untuk sejenak melupakan kelengangan dan kemonotonan hidup di kedamaian Atap Dunia.

Saya termenung di hadapan Danau Chaqmaqtin yang membentang dari timur ke barat. Kawanan yak yang
baru datang mendengus keras. Suaranya mirip dengusan babi. Para ibu keluar menyambut dengan timba-timba kecil di tangan. Sore hari adalah waktu untuk memerah susu hewan berbulu tebal ini. Sementara itu, langit mulai mencurahkan butiran salju. Di musim panas sekali pun salju bisa turun. Udara tiba-tiba dingin menusuk tulang. Tak terbayangkan ketika musim dingin menyergap, tempat ini pasti tak tertahankan lagi dinginnya.

“Musim dingin sungguh menjengkelkan,” kata si gembala, “danau raksasa ini beku. Tak ada air untuk minum, sehingga kami harus memanaskan salju dan es. Udara teramat dingin, sepanjang hari kami harus duduk di perapian. Apinya berasal dari kotoran yak, yang harus dikumpulkan sejak musim panas. Hewan-hewan pun tak menghasilkan susu ketika udara terlalu dingin. Mereka lapar, kami lapar. Mereka mati, kami pun ikut mati.”

page 7

Adakah surga di negeri Afghan?
“Entahlah. Saya tak pernah melihat surga,” gembala berkata tanpa ekspresi, “mungkin kalau surga berarti kedamaian, Pamir memang boleh disebut surga. Bagaimana pun beratnya hidup di sini, ini adalah rumah kami. Setiap lekuk gunung, setiap helai rumput, setiap anak sungai, begitu dekat di hati. Tak ada tempat lain di dunia yang bisa menggantikan Pamir.”

Angin berhembus. Salju semakin deras. Gunung-gunung itu membisu, hilang ditelan kabut.

 
:: May 28, 2009 Kabul – End of Journey?
PermalinkPermalinkThu, May 28, 2009 @08:05 by Avgustin, Categories: About Afghanistan

The last few weeks were very difficult time for me. Once my dad called from Indonesia, “Your mom is going to have an operation. Please pray for her.” It’s very unlikely that my mom gets sick, as my mom is a very active woman, doing physical exercise almost on daily basis. In late few years I have never heard she fell into serious sickness, even for once.

The news was not too good. It turned out to be tumor, cells which grow abnormally. It sounds not so serious, my mom just complained of pain in her abdominal. Operation was conducted.

It’s not a simple tumor. Doctor said it was malignant tumor, euphemism of saying ‘your mom got cancer’. My mom ovary was lifted. The next diagnosis saying that the cancer has spread to her intestine, and they claimed my mom got a Stage-3C cancer.

My days turn dark. I feel guilty, worry, fear, anxiety, … I make dozens of international calls a day to Indonesia to inquire about her.

“Mom, how are you?”
“Everything is alright. Just little bit weak. But I am alright.” Surprisingly, her voice sounds very strong, like she doesn’t feel any pain. She has determined spirit, not to be heard as she was in unbearable pain. She continues, “But I feel sad, when I went to operation, not even one of my beloved family members were next to me. Your dad had to stay in our shop. Your brother was doing final thesis. And you are far away there.”

My parents live by themselves in our house, in a small town in East Java. The medical facility there is not really good. Initially my dad said that the operation could be conducted in our town hospital, but the result might not be good. So my mom had to go to Surabaya, the provincial capital, about 5 hours of journey as the previously good highway was destroyed by mud. She went there alone, met a cousin in Surabaya, and just went to the hospital by her bravery.

“Do you need me to come home? I can accompany you,” I offered.
“No, dear. You have your dream. I know you still have so much of dreams. You want to go to university again, don’t you?”
No…. Nothing is important anymore for me but her health.

“You were crying, weren’t you?” My dad ridicules me, “It’s OK, dear. It’s cancer, everybody can get it, and we have no other way but to face it.” My dad laughs, but I don’t feel much of optimism in her words. The doctor mentions that this stage 3 thing means the cancer has spread, there’s always risk.

I browsed through internet, learning more about ovarian cancer. I read anything from medical journals until blogs of people taking care of parents getting cancer. Some were really grim and ended in tragedy. I never imagine that my mom will suffer all of this.

***

All sons say that their moms are the most beautiful in the world. I think the same. I am always proud of her. She is typical of a small-town or village woman, not highly educated, but has commitment to sacrifice the best for her children’s education and future. She doesn’t like to travel out of town. I remembered the time when she came to Beijing for my graduation, she was terrified in the plane. She liked visiting Beijing, making ‘pilgrimage’ to the Mao mausoleum in a total faith. I even haven’t been there, despite of my 6-year stay in China. Mom also loved the Great Wall, the palace, the Buddha grottoes in Datong. Every single small step was a new inspiring thing for her. But she did not really like the food. The thing I noticed most, my mom never felt totally free. Her mind was always about home, about shop, about my dad and family. She loved Beijing, but preferred to go home earlier if possible. Her heart was bound at our little home in a small town of Lumajang.

Despite of her unwillingness to travel far, I have made her mind to go to China again this time. I have asked around for recommended cancer hospitals. Some friends referred doctors in Singapore, but after considering the cost of bringing mom there, I am sure it won’t be a good choice. Cancer patient should not be stressed. The astronomical bills for sure will make my mom shocked, and it won’t be good for her.

“Don’t worry, Mom. I will pay for your treatment,” I offered.
“No, dear. Save your money for your travel and university. Reach your dreams,” she said again.
“No, Mom. Really, nothing is important anymore.”

I have to ask helps from many friends to talk to my mom, to make her mind. Initially, my mom was so reluctant. The Surabaya doctor said she needed to conduct a set of 6 sessions of chemotherapy. My mom has done the first one. But as far as I know, 6 sessions are the initial set of therapy. If the cancer is not finished, other sessions will have to follow. I have read some patients have to do therapy for 15 years and keep doing it. I am really afraid to imagine that it would happen to my mom. I feel devastated to know that most chemotherapy patients will lose their hair.

Will that happen to my mom? The mom whom I always boast as the most beautiful mom on earth… But for cancer patients, beauty is now placed at the bottom of priority. I just want to see my mom survive, and gets her health back.

“I learn how to give up,” says Mom, “Let it be, Dear.”
“No, Mom. You have to struggle,” I said emotionally, “I will sacrifice anything for you. I leave everything here just for you.”
My mom said she would consider.

***

“Your mom is so strong,” said a close friend in China who made international phone call to talk with my mom, “She is optimistic. Her voice sounds like a freedom fighter. And she is happy that you will accompany her to the hospital in China.”

Gotcha. My mom does miss me. The journey has taken me to all corners of Asia, to different countries, even to warzones and dangerous places. This journey has opened my eyes, seeing different life and cultures. But my mom, she is stuck in a small town there in Java, praying for me every minute, living in worries, suffering psychological stress, and now when she gets sick, she wants me to be next to her.

She never says that directly to me. She always says I have to pursue my dreams and future. But that’s the motherly character of all moms on earth, I bet.

Meanwhile, here in Afghanistan I have bunch of problems in front of my eyes. Starting from visa bureaucracy until some friends who didn’t pay me back the money they borrowed. I have piles of plans of going here and there, of going to study Arabic in Middle East, of doing photo essays and collecting material for my books, and so on. Suddenly, everything turned vain. Initially, it looked very hard to give up all of this. But actually it was not. After all, nothing is important anymore now.

I have begged so many people to help me about the visa. I have made friends to commit to pay back the money, as now my mom only relied on me completely. I have purchased my flight ticket, and I am flying for Hong Kong tomorrow. Life is a roller-coaster, everything may happen without we ever expected. But that’s the meaning of life journey, isn’t it? I am sure that this is the best choice I can take.

All memories of Afghanistan are really difficult to be suddenly erased. The capital is already like my home. The Pajhwok Afghan News office, where I have been staying for two years, is also like my home. The reporters, journalists, translators, and all other staff are like my family. It was very difficult to say ‘bye’ to all of them. This farewell might be forever.

It might be blessing in disguise. I believe that God has prepared everything. Like the Chinese says, men struggle and God decides. Even though my mood now is mostly sad, but there’s a slight of happiness to be able to see my mom again after almost 3 years.

I am returning back to China, to my zero point. Let this blog post ends this chapter of journey. I thank all of you who support my journey financially, physically, spiritually, mentally, whether you are in Afghanistan, Indonesia, China, Central Asia, Pakistan, India, Iran, UAE, all over the world. I know ‘Thank you’ is too bland and far from enough to express this feeling.

I pray for my mom recovery. I am confident with her spirit, she can overcome all of this. I just go with the wind, and let God dictate me where to step.

 
:: U-MAG: Iran 30 Years After
PermalinkPermalinkMon, May 11, 2009 @21:05 by Avgustin, Categories: My Publication, About Iran

SETELAH 30 TAHUN
Di Teheran, ibu negeri Iran, puluhan ribu warga meledak dalam kegembiraanpesta pada 10 Februari lalu. Mereka berpekik-sorak, berpawai, meluapkan emosi yang tumpah-ruah. Di tengah hawa sejuk pengujung musim dingin, mereka menggelar perayaan hari jadi ke-30 Revolusi Iran. Nun di utara Ibu Kota, keriaan pesta menjalari permukiman elite, namun jauh dari “suasana revolusi”. Pesta-pesta ilegal direntang sampai jauh malam. Alkohol ditenggak bebas. Para wanita muda merenggut kerudung mereka, lalu berdansa dalam rok mini dan stiletto. Setelah tiga dekade revolusi, inilah sekeping wajah Iran yang direkam dengan hangat oleh mata hati dan kamera Agustinus.

Marg ba Amrika! Marg ba Israil!” Pekikan itu membaung dari mulut ribuan orang, yang tengah merangsek dari kawasan Medan Revolusi, Teheran, menuju Medan Kebebasan. Sepanjang lima kilometer, kaum lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, tentara, polisi, pedagang, guru, berdesakan. Dengan gairah menyala-nyala, mereka berpawai akbar, memperingati 30 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran.

Pada 10 Februari 1979—atau 22 Bahman dalam penanggalan Persia—sepuluh hari setelah kepulangan Khomeini ke Iran, Revolusi Iran meletus. Raja terakhir ketika itu, Reza Shah Pahlavi, ditumbangkan dari takhta. Berakhirlah tradisi monarki Iran selama ribuan tahun.

Dua bulan setelah peristiwa itu, Republik Islam Iran berdiri. Sembilan bulan sesudahnya, Kedutaan Amerika Serikat diduduki, staf dan diplomatnya disandera selama 444 hari. Hubungan kedua negara memburuk. Amerika memasukkan Iran ke dalam daftar Axes of Evil. Iran menyebut Amerika Sheitoon e Bozorg—Setan Besar.

Hari itu, 10 Februari 2009, saya menyaksikan hiasan aneka lukisan bernuansa politis di sepanjang jalan yang dilewati pawai akbar. Ada patung Liberty berwajah tengkorak, bendera Amerika yang digambar dengan tapak sepatu, Obama bergigi ompong. Juga boneka Bush yang dipukuli, replika Menara Kembar dihujani serbuan pesawat, bintang Israel terbakar, dan lain-lain.

Sebaliknya, replika satelit Omid, 100 persen buatan Iran, yang berhasil meluncur ke orbit seminggu sebelumnya, menjadi penghias Menara Kebebasan. Seolah replika itu hendak mengatakan: “Iran pun bisa.” Para demonstran mengusung slogan tinggi-tinggi bertulisan “Down to USA” dan “Down to Israel”.

Di atas podium, Presiden Ahmadinejad berpidato, menyerukan Iran telah bangkit menjadi adidaya dunia. Anggota Hizbullah dari Libanon yang hadir mengucapkan selamat kepada rakyat Iran. Seruan mereka disambut dengan gegap-gempita, lalu dilanjutkan salat berjemaah.

Malam sebelum 22 Bahman, tepat pukul sembilan malam, para pendukung revolusi bersama-sama berseru “Allahuakbar” dari rumah mereka. Ada yang naik ke loteng, memekik sekuat-kuatnya dalam kesenyapan malam. Seruan kemenangan ini sama persis dengan malam 30 tahun lalu. Ketika itu, pemimpin Revolusi Iran, Imam Khomeini, meminta pengikutnya menyerukan “Allahuakbar” pada pukul Sembilan malam. Mereka menggemakan kemenangan Revolusi.

Di kejauhan, kembang api menciprati langit malam Teheran. Saya menginap di Medan Pasteur, dekat istana presiden. Di situ, tinggal pula ratusan anggota Garda Revolusi. Saat para tetangga masih sibuk menjeritkan yel-yel Revolusi, seorang teman menggeret saya ke sebuah pesta di bagian utara Teheran.

Dengan taksi kami melewati Medan Tajrish, lalu menyusuri perumahan mewah Elahiyeh. Satu unit apartemen di sini bernilai belasan miliar rupiah. Taksi terus merambat. Kian dekat ke arah pegunungan di utara, harga tanah makin mahal, penduduknya kian elite.

“Siapa yang bisa tinggal di sini?” saya bertanya.
“Oh… banyak,” kata kawan saya. “Kamu tidak tahu betapa kayanya para hartawan Iran. Pengusaha, artis, pejabat pemerintah, diplomat. Satu juta dolar tak ada artinya di sini.”

Paradoks. Semangat revolusioner yang menggebu-gebu di Medan Kebebasan di Teheran selatan teramat kontras dengan kemewahan di Teheran utara. Pembagian kelas di kota ini terlihat nyata secara geografis. Daerah utara dihuni kalangan berpunya. Di sini jarang terlihat chador hitam panjang yang dikenakan perempuan Iran kebanyakan.

Wanita di belahan utara Teheran umumnya mondar-mandir dalam celana jins ketat dipadu jaket pendek manteau. Banyak gadis muda mengecat rambutnya kuning atau perak. Jambul rambut mereka indah menyembul, wajahnya berpoles kosmetik. Kerudung dikenakan sekadar memenuhi syarat pemerintah. Kian modern, kian banyak jambul yang dipamerkan. Dan semakin pendek kerudungnya. Kerudung mini yang lebarnya hanya sejengkal tangan pernah pula populer.

Kaum prianya tak mau kalah. Pemuda Teheran senang menggosongkan kulit dalam mesin solar. Kulit berwarna tembaga seperti terbakar matahari menjadi tren. Operasi plastik, terutama operasi hidung, sedang popular di Ibu kota. Saat berjalan di Teheran, kita akan sering melihat anak muda dengan hidung diplester. Artinya, dia baru menjalani operasi hidung.

Kami sampai di sebuah perumahan di pinggang bukit. Bangunan di sini serba megah dan angkuh, bak istana dari pualam.

“Salam,” kata tuan rumah menyambut kami dengan hangat disusul rangkulan, pelukan, dan ciuman pipi tiga kali. Di dalam apartemen luas ini sudah ada 20-an tamu, laki-laki dan perempuan. Bau alkohol meruap. Musik berdentum keras, memainkan lagu disko berbahasa Farsi. Musik disko dan rap dilarang pemerintah. Yang sekarang beredar adalah hasil karya musisi bawah tanah atau dari komunitas diaspora Iran di luar negeri—dikenal sebagai Tehrangeles, Los Angeles versi Persia.

Aha… rupanya saya berada di pesta bawah tanah. Ilegal, tentunya. Dan bukan untuk merayakan kejayaan Revolusi. Lupakan “Marg ba Amrika”. Di sini topik pembicaraannya justru: “Bagaimana cara beremigrasi ke Amerika?”

Kaum perempuan melepas kerudung dan manteau. Tiba-tiba mereka terlihat lebih muda belasan tahun. Yang tadi di pintu seperti ibu-ibu, kini, menjelma menjadi gadis muda dibalut rok mini dan blus ketat. Rambutnya tergerai indah. Tangan dan paha mereka yang putih mulus melenggak-lenggok diiringi dentuman lagu hip-hop.

“Aku rela mati demi kamu…”, “Datanglah malam ini juga di sisiku…”. Lirik-lirik disko Tehrangeles menggebrak kemeriahan pesta. Lampu dimatikan. Dalam remang-remang, kaum perempuan berdansa dalam pelukan para pria. Tuan rumah sibuk menyajikan anggur, bir, vodka, dan wiski.

Ini mungkin pesta biasa bagi ukuran kehidupan malam Jakarta, tapi di Iran, tempat semua kemeriahan dilarang, diskotek pindah ke rumah-rumah pribadi. Mengadakan pesta seperti ini amatlah berbahaya. Kalau ada tetangga yang melaporkan, semua bias ditangkap. “Justru karena besok adalah hari Revolusi, kami berpesta sekarang,” kata tuan rumah berseloroh. “Karena kami tahu pasti, saat ini semua polisi dan Garda Revolusi berada di selatan, sibuk memekikkan ‘Allahuakbar’ dan menonton kembang api. Di sini aman!” dia meneruskan.

Underground, demikian orang menyiasati peraturan pemerintah yang ketat. Alkohol, erotisme, musik Barat, konser rap, gosip politik, sekularisme, romantika, seks bebas, dadah, kosmetik, parabola, siaran berita asing, fashion terbaru, komik subversif, komunisme, semuanya ada. Semuanya hidup dengan berdaya setelah 30 tahun Revolusi, kendati tersembunyi di balik tembok-tembok privat yang kokoh.

Sehari setelah peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran, semangat nasionalisme Persia kembali diaduk-aduk di stadion sepak bola Azadi. Azadi berarti kebebasan, nama amat populer di negara ini. Stadion, jalan, sekolah, gang, halte, stasiun, universitas, medan, toko, saluran radio, dan percetakan diberi nama Azadi. Tapi ternyata tidak semua orang bebas untuk datang ke Stadion Kebebasan ini.

Stephanie, gadis Australia keturunan Korea, bertekad menonton pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara tim nasional Iran dan Korea Selatan. Di bawah guyuran hujan deras, kami sampai di pintu gerbang stadion yang dijaga tentara. “Tidak. Perempuan tidak boleh masuk!” kata tentara yang berupaya ketat menjalankan perintah agama. Tapi kami lihat hidungnya diplester, tanda baru dioperasi plastik.

“Tapi kami ini orang asing. Gadis ini dari Korea, khusus datang jauh-jauh untuk menyemangati tim negaranya,” saya membujuk. Tetap tidak boleh. Perempuan Iran diharamkan masuk stadion untuk menonton pertandingan sepak bola bersama kaum lelaki. Kami mencoba peruntungan di gerbang lain, sekitar 200 meter jauhnya. Berhasil. Kami bisa membeli tiket dan menerobos sampai ke gedung utama.

Di dalam stadion, kami menyadari bahwa Steph satu-satunya perempuan di tengah kerumunan ribuan orang. Itu sebelum rombongan suporter Korea Selatan yang dikoordinasi kedutaan besar mereka datang. Banyak perempuan Korea juga hadir. Mereka tidak perlu menerima “hukuman” seperti kami karena mereka datang berombongan dengan beberapa bus pariwisata.

Satu sektor stadion disediakan khusus untuk pendukung tim Korea. Dalam sekejap, orang-orang Korea yang amat terorganisasi ini mendistribusikan alat-alat pembangkit semangat yang didatangkan khusus dari negeri mereka: bendera raksasa, genderang, trompet, spanduk, dan sebagainya. Tetabuhan dimulai. “Dae-hanminguk! Korea Raya Berjaya!” mereka berpekik.

Suporter Iran, yang memenuhi segala penjuru stadion, membalas dengan membahana. “Iran chekaresh mikone? Iran bakal ngapain?” teriak ribuan orang di sector seberang. “Iran surokh-surokhesh mikone! Iran bakal melubangi mereka!” ribuan suara lain membalas. Bunyi trompet bersahut-sahutan, memekakkan telinga.

Saya terhanyut oleh lantunan musik, gelombang tepuk tangan, sorak-sorai, hingga doa-doa yang meluncur dari barisan pendukung Iran. Sektor demi sektor bersorak bergantian, sering bersamaan, bagai terjangan tsunami spiritual yang dahsyat. Bukan hanya slogan olahraga, nama Allah, Muhammad, Ali, Hussein, dan Fatimah Zahra ikut didaraskan sebagai penolong mencapai kemenangan.

Gegap-gempita berubah menjadi keheningan di menit-menit terakhir hingga pertandingan usai. Iran, yang semula memimpin 1-0, kebobolan gol balasan dari Korea. Pertandingan berakhir seri. Ribuan pendukung meninggalkan stadion tertunduk lesu, nyaris tanpa suara.

“Tak perlu membayar, Tuan! Aku adalah pelayanmu,” kata sopir taksi.
“Tidak, Tuan! Tolong, terimalah uangku ini,” demikianlah saya harus memohon.
“Sungguh. Jadilah tamuku.”
“Tuan, saya tidak akan tenang kalau Anda tidak menerimanya. Terimalah, Tuan, tolong….”
“Ah… baiklah, Tuan. Dua ribu toman saja.”

Demikianlah ritual sehari-hari yang harus kita jalani hampir setiap kali membayar taksi, atau sewaktu membeli barang di toko, atau sehabis makan di restoran. Terkadang “drama” tidak perlu terlalu panjang, tapi mereka baru menerima uang setelah dirayu lebih dari tiga kali. Tak jarang pula, ujungnya malah menarik ongkos lebih mahal dari semestinya.

Ini kultur ta’arof , bagian dari keseharian orang Iran, identitas Iran yang senantiasa eksis setelah ribuan tahun. Basa-basi atau sopan-santun kalau menurut cara kita. Tapi orang Iran melakukannya dengan lebih ekstrem. Pertama kali, saya tercengang menyaksikan betapa semua orang bermulut manis dan menawarkan ini-itu. Kultur ini mengajarkan, bila kita memuji milik seseorang, ia serta-merta harus mempersembahkannya bagi kita.

“Arlojimu bagus.”
“Tuan, arloji ini milikmu,” demikian pria Iran ini berkata sembari melepas arloji dari pergelangan tangannya.

Tapi ta’arof juga mengajarkan agar kita tahu diri. Sangatlah tidak beradab kalau kita sampai mengucap terima kasih lalu mengambil arloji itu. Ta’arof menuntut orang Iran merendahkan diri dan meninggikan lawan bicara. Seorang antropolog Iran mengibaratkan ta’arof bagai sebuah kompetisi menjadi yang paling sopan. Kalau ada hal yang membuat kultur Iran bertahan di tengah gempuran dominasi kultur asing, itu adalah ta’arof.

Orang asing yang baru datang ke Iran mungkin belum terbiasa dengan ta’arof, yang membenarkan kebohongan untuk menyenangkan lawan bicara. Seorang kawan dari Afrika di Mashhad sungguh tersentuh hatinya ketika sopir taksi menolak dibayar, mengundangnya menjadi tamu demi “persahabatan antarbangsa”. Tapi, begitu pria kulit hitam ini turun dari mobil, si sopir taksi langsung berteriak marah, “Hei! Mau ke mana kamu? Masak, pergi tanpa bayar?”

“Saya tahu bahwa orang asing tak terbiasa dengan kultur ta’arof,” kata Majid, seorang teman yang berprofesi sebagai juru kamera. Ia berkata begini karena secara tidak sengaja saya baru saja membuatnya malu. Kami makan bersama di restoran jus
susu. Majid menawarkan membayar semua minuman. Saya mengucapkan terima kasih. Begitu di depan kasir, ia bersiap membayar sembari menunjukkan dompetnya yang kosong melompong.

“Tapi bagaimana lagi? Kultur ini sudah mengalir bersama darah saya,” ujarnya, tersipu.
“Ini bagian hidup kami. Justru kalau kita tidak ber-ta’arof, orang akan menganggap kita tidak sopan.”

Di sini, tidak semua omongan manis boleh ditelan mentah-mentah.

Kaum pria Iran ternama untuk kejantanannya walau bicara mereka bisa lemah lembut dan manis. Selain jago sepak bola, Iran jagoan dunia di pentas angkat berat dan gulat. Ternyata olahraga berat sudah mengakar dalam kultur Iran, jauh sebelum masuknya Islam.

Mari berkunjung ke zurkhuneh—pusat kebugaran ala Iran. Zur berarti kekuatan, khuneh berarti rumah. Begitu memasuki gerbangnya, Anda akan disambut tetabuhan kendang dan lantunan selawat, lengkap dengan pasangan foto Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei. Di dinding, terpampang ratusan foto hitam-putih menampilkan kejayaan para atlet zurkhuneh sejak masa Iran masih dipimpin raja-raja.

Jangan bayangkan pusat kebugaran ini seperti gym di Jakarta. Lupakan barbel dan cakram atau barisan kursi untuk melatih otot. Yang ada di sini adalah barisan gada mirip kepunyaan Betara Kala atau Flinstone, dari ukuran mungil sampai raksasa. Ada pula tongkat-tongkat kayu pendek dan busur yang dipasangi kerincing besi. Lupakan binaragawan yang mati-matian membentuk perut menjadi six-pack. Atlet zurkhuneh kebanyakan sudah tua, berperut besar, berbadan kekar. Celana mereka terbuat dari kulit, ketat melekat di paha, mirip atlet gulat.

Ruangan zurkhuneh yang saya datangi di Yazd ini sudah berumur seratus tahun lebih. Selain ratusan foto kuno yang menggambarkan sejarah panjang gedung olahraga ini, nuansa zurkhuneh yang seakan-akan sudah berbeda dimensi waktu dari Teheran membuat saya terkesima. Tempat ini tersembunyi di tengah gang-gang kota kuno Yazd yang semrawut seperti benang kusut. Ruangannya tak besar. Di tengah ruangan utama ada cekungan besar berbentuk oktagon sedalam satu meter. Di dalam cekungan inilah para atlet zurkhuneh berlatih.

Ding-ding-ding… ding… ding….

Seorang pemusik bersuara dalam dan keras menabuh kendangnya. Ia melantunkan pujian, bermelodi panjang dan merdu. Isinya berupa pujian kepada Allah, Hazrat Ali, dan Imam Hussein. Para atlet kemudian serempak menyambung dengan lantunan selawat.

Allah huma saleealaa Muhammad wa ali Muhammad!”

Satu per satu orang melompat ke dalam cekungan oktagonal. Tetabuhan kendang terus membahana, mengiringi latihan. Zurkhuneh bukan tempat pendatang baru bisa bergabung seenaknya. Setiap gerakan dalam latihan ini berharmoni. Butuh latihan panjang untuk mengikuti ritmenya. Para pria mengelilingi lingkaran, mengambil tongkat kayu, dan melakukan gerakan push-up mengikuti aba-aba, tetabuhan kendang, serta lantunan melodi religius. Push-up dua tangan, satu tangan, naik, turun, naik, turun. Kemudian satu per satu mereka menuju ke tengah lingkaran, berputar cepat bak gasing sambil melompat di udara.

Saya teringat pada aliran sufi di Asia Tengah yang berputar-putar tanpa henti dalam perjalanan spiritual mereka. Semakin cepat berputar, semakin cepat roh lepas dari badan, semakin terasa kedekatan dengan Yang Mahakuasa. Gerakan di zurkhuneh sungguh kental nuansa religinya, dan sudah ada jauh sebelum datangnya Islam. Ketika bangsa Arab menjajah Persia, agama kuno Zoroaster tenggelam, zurkhuneh sempat diharamkan. Olahraga ini dihidupkan lagi setelah unsur pagan dihilangkan, diganti unsur islami.

Pahlawan agung yang menjadi idola atlet zurkhuneh adalah Rustam. Kisah tentang dia ada dalam Shahnameh (Kitab Raja-raja) yang ditulis pujangga besar Ferdowsi. Rustam adalah pahlawan Iran. Dia tak gentar menghadapi singa dan naga. Kecintaan pada bangsanya membuat dia secara tak sengaja membunuh anaknya sendiri yang dibesarkan musuh. Rustam digambarkan amat perkasa, bisa menghancurkan segala kekuatan jahat.

Kini zurkhuneh bukan sekadar olahraga. Setiap gerakannya adalah ibadah. Ini juga bukti identitas Persia tak akan luntur sekalipun harus bercampur dengan berbagai macam kebudayaan dan nilai.

Sejarah peradaban Iran membentuk superioritas mereka terhadap bangsa-bangsa tetangga yang dianggap lebih barbar. Di tengah reruntuhan Persepolis yang berumur lebih dari 2.500 tahun, saya mencoba memahami arti rasa kebanggaan itu. Iran—di bawah Dinasti Achaemenid yang dipimpin Cyrus Agung dan dilanjutkan Darius—adalah pusat dunia.

Di tembok kuno Persepolis terlukis bagaimana 23 bangsa di bawah kekuasaan Persia datang ke kota kuno ini untuk menghunjukkan hormat dan upeti kepada Sang Raja Segala Raja, penguasa terbesar di muka bumi. Orang Samarkand mempersembahkan unta berpunuk dua. Bangsa India membawa rempah-rempah. Dari Ethiopia, datang gading gajah. Arab pun bersoja di bawah pengaruh Persia.

Reza Shah Pahlavi di kemudian hari menggunakan kebanggaan ini untuk menahbiskan kedudukannya. Pada 1971, Shah menggelar pesta besar merayakan 2.500 tahun berdirinya Kerajaan Persia. Dia mempromosikan Iran dan Persepolis ke seluruh dunia. Jutaan dolar dihamburkan untuk mengundang lebih dari 60 kepala negara ke Persepolis. Tenda-tenda mewah dibangun, bagai hotel bintang lima.

Raja berfoya-foya dengan uang negara, rakyat jelata melarat hidupnya. Sentimen anti-Shah pun merebak. Popularitas dia setelah pesta Persepolis jeblok. Delapan tahun kemudian, Shah digulingkan. Republik Islam Iran tegak, berjaya hingga sekarang. Tenda-tenda mewah yang dulu dibangun untuk pesta besar di Persepolis dibakar para pendukung Revolusi. Yang tersisa kini hanyalah barisan tiang berkarat.

Kemenangan atas perjalanan panjang itulah yang dirayakan besar-besaran pada 10 Februari lalu. Sepuluh tahun perang dengan Irak, ditambah blokade seluruh dunia, tidak membuat Iran tunggang-langgang. Ia mampu hidup, bertegak dengan kukuh. Ya, mereka layak berpesta setelah 30 tahun perjalanan panjang. ●

 
:: My Journey
This blog contains my current and previous trips. You can browse the blog categories to read my previous trips (some written in Indonesian language only). And I'd be very happy if you also give comments in my blog.


February 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
 << <   > >>
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28

:: Categories

:: Archives

:: Search
 
Web avgustin.net




:: Syndicate this blog
 


.:Disclaimer Notes:.
You may not distribute any of the material in this sites without permission from Avgustin.Net
This blog is powered by
b2evolution
Agustinus Wibowo photography
© 2005 - 2008
eXTReMe Tracker